Minggu, 29 November 2020

10.10 pm

 

Ada 24 jam yang sama dan adil untuk setiap manusia di muka bumi. Tergantung bagaimana kau membentuk setiap detiknya menjadi rajutan memori yang utuh. Dan bagaimana semua momen itu menjadi harta yang tak ternilai harganya. Bagaimana sebuah lagu bisa mengingatkanmu pada bibirnya yang bernyanyi tanpa suara. Atau sebuah escalator yang naik dan di stepnya membawa jemarimu kembali menelusuri sejarah ketika jemarinya juga terkait denganmu dulu.

Kadangkala namun cukup sering, yang kebanyakan dilakukan hanya diam. Yang begitu lama. Seakan memutar film itu setiap kali punya waktu senggang yang kosong atau gemerisik riuhnya perdebatan di pekerjaan yang tak kunjung menemukan titik terang. Kau hanya akan duduk di pojokan dan melihat pesannya di layar ponselmu sesaat dan yaa seperti yang ku bilang. Kau hanya diam. Yang begitu lama.

Lalu kau akan merasa bernafas lebih lega meski hanya sepersekian detik. Kau merasa beban di kepalamu lenyap dan kau tak peduli pada sekitarmu yang justru sedang ribut saling rebut.

Dan aku masih tak mengerti bagaimana caranya hal itu bekerja?

Maksudku, dengan hanya membayangkan semua memori yang terjadi, namun mampu membuat tawa, marah, kesal, sendu hingga candu.

Lalu saat aku melihatnya yang terlalu asik menatap layar laptop tanpa headset di telinga nya yang merupakan pemandangan baru, saat kaki kirinya takmau diam seiring dengan jemarinya yang gerak lincah melombakan huruf di keyboard. Aku baru sadar ketika sesekali dia melihat kearahku tanpa senyum dan hanya membentuk telunjuk dan jempolnya menjadi symbol hati lalu bergumul lagi dengan apapun yang ada di layar itu.

Kesukaannya yang baru pada anggur tanpa biji, tak pernah meminta hal sulit kecuali nasi goreng tanpa kecap dengan telor ceplok setengah matang dan sambal dabudabu yang sengaja ku buat bawang lebih banyak karena lidahnya yang lemah –namun sok kuat- pada intensitas kecil rasa pedas. Yang jika bersin minimal 3 kali berturut-turut, yang selalu menawarkan pilihan dengan tata bahasa berbeda yang sebenarnya merupakan pengulangan kata tiap kali aku tanya pendapatnya mengenai ‘mau makan apa’.

Aku paham bagaimana semesta bekerja dengan ajaib dan caranya yang menyenangkan.

Tentang pengaturan yang stabil dari atmosfer perasaan yang membuncah liar kesana kemari. Dan kala bumi turut bekerjasama membuat cuaca terbaiknya di setiap waktu yang kami lewati. Pagi yang selalu baikbaik saja, atau siang yang tak terlalu panas dan hujan di petang menjelang malam. Untuk lalu lintas yang jarang padat hingga tersendat dan lebih sering kosong dengan jumlah yang bisa terhitung sesekali.

Untuk setiap mata yang turut membentuk senyum di pipi, atau kala rengkuhnya utuh di jemarinya yang erat disela punggungku, dan banyak hal yang tak bisa lagi ku sebutkan satusatu.

Semoga dan selalu selamanya.

Kamis, 19 November 2020

Aku

 

Aku adalah matahari.

Bukan untuk memberi cahaya untuk bumi dan jagat semesta.

Bukan untuk memudahkan para tanaman mendapatkan fotosintesisnya.

Bukan untuk membantu Ibu menjemur pakaian,Ayah yang menyimpan sepatu di genting agar kering, atau untuk dinikmati kamu di pantai saat aku nyaris tenggelam di ufuk barat.

Aku adalah matahari.

Yang egonya terlalu tinggi karena menjadi satusatunya.

Merasa bahwa hanya aku yang bisa memberikan warna diseluruh tata surya.

Yang punya jiwa begitu membara dan banyak maunya.

Yang tidak punya telinga atau sebuah rasa peka.

Yang tidak pernah paham bahwa semua  makhluk sewajarnya memiliki itu semua.

Aku adalah matahari.

Hanya sebuah bintang yang tak bisa apa-apa, dan hanya mampu melihatmu di sana. Yang jauh tak bertepi. Yang sendiri memandangi langit diantara gersangnya pantai pulau Bali.

Kau yang selalu berusaha mungkin selayaknya kita bersama.

Sayangnya kau salah.

Dekatku, kau akan hancur menjadi debu. Kau yang rapuh makin luruh kala kau ku coba rengkuh. Dimensi berbeda dan kau selalu bilang kita di cipta Tuhan sama. Kau kira hidup ini dunia sastra?

Aku pernah menyukai mu dengan sangat yang tak pernah bisa menjadi satu. Aku pernah ingin menghabiskan waktu mu dengan nyalaku yang tak pernah padam untuk membuatmu selalu terjaga bersama.

Lihatkan? Betapa egoisnya aku?

Padahal kau butuh malam untuk terpejam. Dan aku malah membuatmu tetap hidup agar tak redup.

Sekali lagi, aku adalah matahari.

Kamis, 12 November 2020

mood

 

seperti pada kebanyakan kucing yang sangat senang melihat pajangan whiskas di etalase toko kelontong lewat jendela di sore itu, aku pun bisa sesuka ini melihat cara matanya beradu dengan layar laptop dengan sebelah headset di telinga kanannya. Sesekali dia menghela nafas, meminum teh dinginnya dan kembali mencatat beberapa hal di notepadnya. Entah. Hanya sedang merasakan rasa senang yang menyebar begitu liar apalagi saat dia sadar aku memandanginya lama dan balik menatapku skeptis. Lalu mengorek hidungku dan memasukannya ke mulutku sendiri. Sialan! Aku makin suka!!

Orang yang terlalu tergilagila pada ice caffe latte no sugar dan selalu pesan bubur ati ampela yang banyak sambalnya. Orang yang tiap lihat menu makanan akan cari yang diolah dengan telur. Entah omelet, scramble egg, atau hanya telur kecap setengah matang. Satusatunya makanan yang pernah dia minta dariku hanya nasigoreng tanpa kecap dan telor ceplok setengah matang.

Sebenarnya ketika aku pertama bertemu dengannya yang muncul di batinku hanya “Oh orang baru lagi”. Lalu semua berjalan sebagaimana hari-hari biasa. Tidak pernah terpikir olehku kita akan sedekat ini. Kita akan punya cerita yang kita buat masingmasing menjadi paragraph yang utuh. Yang punya begitu banyak warna frasa setiap harinya. Yang membuatku amnesia dari ingatan yang kacau atau otak yang kalut pada prinsip diriku kemarin-kemarin. Yang menyadarkanku arti hidup itu seperti apa dan bagaimana pentingnya sadar pada diri sendiri bahwa kita ini punya nilai yang tak ternilai.

Yaah. Jika pun akhirnya kau membaca ini, (meski kemungkinannya kecil dengan betapa sibuknya dirimu akhir-akhir ini) aku hanya ingin mengatakan ini,

Untukmu yang sering membuatku mengaktifkan urat syaraf di pipi hingga ku bisa tertawa dan menyebarkan serotonin dengan liar di seluruh tubuh, terimakasih.

Untuk akses Netflix dan spotify premium, untuk grass jelly yang aku tak pernah suka tapi kini jadi minuman favoritku dikala waktu, untuk seluruh makanan yang pedas, berkuah, panggang, goreng, manis, asin, gurih, cemilan atau makanan berat, aneka kopi, banyak tempat yang ingin kukunjungi dan kesampaian, tempat tenang atau ramai, tempat yang sangat bagus sampai yang paling zonk, bakmi terenak di Bandung sampai yang paling ‘blacklist’, dimsum yang banyak, nasi goreng yang tiada henti, tempat rehat yang selalu memiliki rasa nyaman yang makin hebat, untuk seluruh lampu merah, untuk random things di setiap perjalanan, untuk waktu dimana kau prepare pulang (yang mana sampai 10 menit) tapi aku nikmati, dan seluruh hal yang tak bisa ku ucapkan satusatu.

Sehat selalu.

Your sincerely,

Lulu rara.

Kamis, 10 September 2020

hai

 

Mari kita diskusi sedikit tentang bagaimana hidup bisa dijalani dengan menyenangkan selama kau ada. Seperti ketika kapanpun aku membutuhkan seseorang untuk mendengarkan, kau memberikan sebuah kesempatan yang jauh lebih hebat. Segalanya berjalan begitu apik hingga akhirnya segalanya sudah tersedia di meja. Sepaket telinga yang terhubung pada batin dan pemikiranmu yang luas, dan makanan yang banyak. Yang begitu bisa menyentuh pipiku sampai mengembang dan sulit berhenti tersenyum.

Atau ketika aku ingin sesuatu, kau selalu bilang iya. Meski aku tau itu bukan pilihan yang baik, namun kau memintaku mempertimbangkan justru dengan membebaskanku memilih apapun yang aku mau. Banyak memberikan jokes receh yang recehannya justru menghujani aku dengan gema tawa yang tak bisa berhenti untuk beberapa saat.

Jadi, saat aku duduk di bis ini, aku mulai mempertimbangkan banyak keraguan yang dulu muncul begitu sering. Jika dulu aku ragu apa kau pantas masuk dalam hidupku, kini aku ragu apa aku pantas masuk dalam dimensi baru yang mana itu adalah duniamu.

Seolah Tuhan sedang mempertontonkan padaku ‘Inilah ciptaanKu yang selama ini kau cari kan? Dan kau sempat ragu akan menemukannya di belahan dunia yang mana. Aku menghadirkannya untukmu saat ini. Dan dia adalah ciptaanKu dalam bentuk sebaikbaiknya’.

Seakan Tuhan benar-benar menjawab doaku yang dulu sangat ingin seseorang yang tinggi, putih, bermata sipit, baik hati dan memiliki waktu yang banyak untuk dihabiskan dengan hal receh.

Meski kecil kemungkinannya kau membaca ini, aku hanya ingin bilang terimakasih.

Telah hadir diwaktu yang tepat. Meluruskan aku yang selama ini keliru terhadap segala rasa yang muncul pada orang yang salah.

Maaf jika aku melibatkan diri terlalu dalam. Nadiku bergerak kencang setiapkali tanganmu menelusuri jemariku yang kedinginan ditengah malam saat nonton film bajakan. Atau saat kau mampu memberikan tawa dari canda receh sarkas dimana jarang sekali orang bisa mengerti apa yang aku lontarkan. Atau saat degupku tak bisa menemukan rima yang tepat kala peluk itu mampir melingkupi tubuhku yang kepayahan. Dan mungkin hanya denganmu aku bisa berhenti minum paracetamol merah itu jika bukan mata sedihmu yang berbicara.

Terimakasih telah hadir di waktu yang tepat.

P, Ilysfm.

Selasa, 09 Juni 2020

Paruparu baru




Selama ini ku kira aku yang sudah payah mendapat polusi dari asap rokok, atau knalpot damri, dan seringnya asap arang dari sate depan rumah, sampai paruparuku payah sebagai paruparu lalu aku tinggal menghitung hari kapan aku mati.

Rasanya terlalu pasrah untuk tetap hidup tanpa kendali yang cukup. Seakan semesta menghajar membabi buta. Semua organku babak belur. Sudut mata kehilangan jalur untuk menangis. Dia tersesat dan tidak bisa menemukan jalan pulang. Gelap dan kelam. Jauh sunyi terdampar tak perhatian yang didapatkan.

Kadang aku berjalan tanpa memperhatikan jalan. Lupa terhadap peta yang sudah jelas di depan mata. 

Aku terlalu lelah untuk sadar. Aku paham tentang waktu yang sebentar lagi habis. Dan aku merasa sudah menyerahkan segalanya meski tidak sesuai ekspetasi.

Hidangan yang mewah, atau berkesan. Semuanya hanya mampir sekedar melipir. Tidak tinggal lama untuk selamanya. Bunga yang bermekaran dan dipetik dengan liar untuk dibuat sebagai karangan yang manis pun lenyap di makan usia senja. Semakin pelik dan aku sekali lagi menyerah.

Sampai tiba-tiba aku tertegun.

Ketika ada sebuah paruparu baru yang memberiku ruang bernafas lega.

Meski secara logika aku paham kalau paruparu tak bisa digantikan. Tapi kali ini, aku ingin mencoba.

Apa aku bisa bernafas lama?

Minggu, 17 Mei 2020

Halte

Jika kau pernah ke sebuah halte bis, tempat menunggu kendaraanmu datang. Kau akan lihat sebuah tempat berbentuk kotak dengan atap dan kursi. Senyaman mungkin. Melindungi kala panas atau hujan. Banyak kursi, kadang ada ayunan. Sering banyak orang jualan. Tempat orang pacaran, sering di pojokan kala malam. Atau berteduh dari lelahnya kerja sepanjang hari. Seringkali menangis waktu dunia sedang tak ramah.

Meski akhirnya mereka semua pergi lupa pamit. Beberapa ada yang berbaik hati mengabadikan halte itu sebagai tempat bersejarah. Banyak yang benci juga dengan vandalisme di kiri dan kanannya.
Tapi dia tetap disana. Tidak bisa berpindah. Tetap menjadi sebuah halte bis.

Yang nyaman untuk gelandangan kesepian, atau tempat para transpuan merokok menunggu nafkah.
Yang melindungimu dari hujan, atau panas terik, atau tempat kala kau menunggu bis mu datang.

Aku, selamanya akan jadi halte itu.
Dan selama itu aku akan selalu berharap kau selalu salah jurusan.
Agar kau tinggal menetap dan tak pernah beranjak.

Selasa, 12 Mei 2020

sin

Kau adalah dosa favoritku.

Obsesi

Jika kalian pernah menyukai seseorang dan melakukan ini, mungkin kalian bukan hanya menyukai. Tapi terobsesi.





Aku menyimpan fotomu di belakang nametag kerja

Aku memasang wallpapermu pada kedua ponselku

Aku menyesal menghapus foto beberapa tahun lalu

Aku selalu datang ke tempat kau kerja dulu untuk sekedar duduk dan melihat mungkin kau lewat lagi

Aku pernah membawakanmu obat luar waktu kau update di bbm tangamu luka

Aku pernah membawakanmu roti dan susu untuk makan siang

Aku pernah mencari buku paper romance yang jadi alasan kita bertemu saat itu

Aku selalu menyiapkan sesuatu tiap kali kau ulang tahun tapi aku tak pernah berikan

Aku sering menceritakanmu pada teman-teman

Aku pernah salah menjalani banyak hubungan dengan membayangkanmu adalah mereka

Aku selalu membuka twittermu

Aku sering membuka profile dan melihat pada siapa kau ber interaksi

Aku sering datang ke indomaret hanya untuk melihat nescafe latte dingin dan snickers

Aku suka melihat buku yang pernah kau kasih dulu

Aku suka membayangkan kau menikah untuk membuatku sakit hati dan lupa bahwa aku pernah suka

Aku sering sangat panas lihat kau foto dengan perempuan

Aku suka melihat fotomu jika aku lelah dan membayangkan seakan kau bilang “semua baikbaik saja”

Aku sering memutar ulang tiap kau nyanyi

Aku menyimpan beberapa video mu


Minggu, 10 Mei 2020

undangan





Ada sebuah kursi dengan banyak dedaunan yang menjalar. Tiang kayu, lampu yang lucu, tanaman diantara pepohonan, dengan ratusan bangku kayu berjajar rapih, tirai putih, piano juga ada disana.

Iya, selamat datang katamu.

Kau hebat sekali menyiapkan ini semua serapih mungkin. Dengan estetik. Foto di kiri dan kanan, juga cuaca yang cerah. Komorebi nya dapet kau kata. Saat matahari masuk melewati dedaunan. Dan sound systemnya lembut sekali. Kau bisa mendatangkan piano itu di tempat yang tepat.

“Biar kamu enak maininnya”

Aku ingat saat kamu datang dengan senyuman yang paling luas mampir ke pipimu. Kau pesan milkshakes strawberry dan aku teh Tarik dingin. Mentraktirku makanan favoritku sepanjang masa. Nasi goreng Pak Yamin. Dan meminta ku untuk main piano di hari paling penting dalam hidupmu.
Selembar undangan mampir ke mejaku. Beserta sebuah kain putih yang menjadi selendang untuk seragam pernikahan.

Sabtu, 27 April 2019.

Dengan namamu sebagai pengantinnya. Dan kekasihmu yang bersanding disamping namamu. Nuansanya manis sekali. Cream putih dan hijau.

Kau minta aku bermain Banda Neira. Sampai Jadi Debu.

Acara ini tidak akan besar kau bilang. Hanya orang paling berarti dalam hidupmu yang kau undang.

Aku, termasuk. Pusat dunia. Tentu saja, aku adalah tamu kehormatan yang namanya akan selalu 
muncul paling atas dalam list undangan yang baru rilis dua minggu kemarin. Aku adalah yang pertama mendapatkan undangan ini. Kau mengosongkan jadwalku dan mengatur semuanya agar aku datang.

Tentu saja, kau sahabatku yang terbaik. Aku akan datang.

Menghadiri pernikahan terbaikmu, satusatunya.

Pernikahanmu dengan salah satu orang paling hebat yang pernah mampir dalam hidupku.

Semoga kalian bisa saling menjaga.

Karena aku pernah gagal untuk itu.


Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...