Ada 24 jam yang sama dan adil untuk setiap manusia di muka
bumi. Tergantung bagaimana kau membentuk setiap detiknya menjadi rajutan memori
yang utuh. Dan bagaimana semua momen itu menjadi harta yang tak ternilai
harganya. Bagaimana sebuah lagu bisa mengingatkanmu pada bibirnya yang
bernyanyi tanpa suara. Atau sebuah escalator yang naik dan di stepnya membawa
jemarimu kembali menelusuri sejarah ketika jemarinya juga terkait denganmu
dulu.
Kadangkala namun cukup sering, yang kebanyakan dilakukan
hanya diam. Yang begitu lama. Seakan memutar film itu setiap kali punya waktu
senggang yang kosong atau gemerisik riuhnya perdebatan di pekerjaan yang tak
kunjung menemukan titik terang. Kau hanya akan duduk di pojokan dan melihat
pesannya di layar ponselmu sesaat dan yaa seperti yang ku bilang. Kau hanya
diam. Yang begitu lama.
Lalu kau akan merasa bernafas lebih lega meski hanya
sepersekian detik. Kau merasa beban di kepalamu lenyap dan kau tak peduli pada
sekitarmu yang justru sedang ribut saling rebut.
Dan aku masih tak mengerti bagaimana caranya hal itu
bekerja?
Maksudku, dengan hanya membayangkan semua memori yang
terjadi, namun mampu membuat tawa, marah, kesal, sendu hingga candu.
Lalu saat aku melihatnya yang terlalu asik menatap layar
laptop tanpa headset di telinga nya yang merupakan pemandangan baru, saat kaki
kirinya takmau diam seiring dengan jemarinya yang gerak lincah melombakan huruf
di keyboard. Aku baru sadar ketika sesekali dia melihat kearahku tanpa senyum
dan hanya membentuk telunjuk dan jempolnya menjadi symbol hati lalu bergumul
lagi dengan apapun yang ada di layar itu.
Kesukaannya yang baru pada anggur tanpa biji, tak pernah
meminta hal sulit kecuali nasi goreng tanpa kecap dengan telor ceplok setengah
matang dan sambal dabudabu yang sengaja ku buat bawang lebih banyak karena
lidahnya yang lemah –namun sok kuat- pada intensitas kecil rasa pedas. Yang jika
bersin minimal 3 kali berturut-turut, yang selalu menawarkan pilihan dengan
tata bahasa berbeda yang sebenarnya merupakan pengulangan kata tiap kali aku tanya
pendapatnya mengenai ‘mau makan apa’.
Aku paham bagaimana semesta bekerja dengan ajaib dan caranya
yang menyenangkan.
Tentang pengaturan yang stabil dari atmosfer perasaan yang
membuncah liar kesana kemari. Dan kala bumi turut bekerjasama membuat cuaca
terbaiknya di setiap waktu yang kami lewati. Pagi yang selalu baikbaik saja,
atau siang yang tak terlalu panas dan hujan di petang menjelang malam. Untuk lalu
lintas yang jarang padat hingga tersendat dan lebih sering kosong dengan jumlah
yang bisa terhitung sesekali.
Untuk setiap mata yang turut membentuk senyum di pipi, atau
kala rengkuhnya utuh di jemarinya yang erat disela punggungku, dan banyak hal
yang tak bisa lagi ku sebutkan satusatu.
Semoga dan selalu selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar