Kamis, 10 September 2020

hai

 

Mari kita diskusi sedikit tentang bagaimana hidup bisa dijalani dengan menyenangkan selama kau ada. Seperti ketika kapanpun aku membutuhkan seseorang untuk mendengarkan, kau memberikan sebuah kesempatan yang jauh lebih hebat. Segalanya berjalan begitu apik hingga akhirnya segalanya sudah tersedia di meja. Sepaket telinga yang terhubung pada batin dan pemikiranmu yang luas, dan makanan yang banyak. Yang begitu bisa menyentuh pipiku sampai mengembang dan sulit berhenti tersenyum.

Atau ketika aku ingin sesuatu, kau selalu bilang iya. Meski aku tau itu bukan pilihan yang baik, namun kau memintaku mempertimbangkan justru dengan membebaskanku memilih apapun yang aku mau. Banyak memberikan jokes receh yang recehannya justru menghujani aku dengan gema tawa yang tak bisa berhenti untuk beberapa saat.

Jadi, saat aku duduk di bis ini, aku mulai mempertimbangkan banyak keraguan yang dulu muncul begitu sering. Jika dulu aku ragu apa kau pantas masuk dalam hidupku, kini aku ragu apa aku pantas masuk dalam dimensi baru yang mana itu adalah duniamu.

Seolah Tuhan sedang mempertontonkan padaku ‘Inilah ciptaanKu yang selama ini kau cari kan? Dan kau sempat ragu akan menemukannya di belahan dunia yang mana. Aku menghadirkannya untukmu saat ini. Dan dia adalah ciptaanKu dalam bentuk sebaikbaiknya’.

Seakan Tuhan benar-benar menjawab doaku yang dulu sangat ingin seseorang yang tinggi, putih, bermata sipit, baik hati dan memiliki waktu yang banyak untuk dihabiskan dengan hal receh.

Meski kecil kemungkinannya kau membaca ini, aku hanya ingin bilang terimakasih.

Telah hadir diwaktu yang tepat. Meluruskan aku yang selama ini keliru terhadap segala rasa yang muncul pada orang yang salah.

Maaf jika aku melibatkan diri terlalu dalam. Nadiku bergerak kencang setiapkali tanganmu menelusuri jemariku yang kedinginan ditengah malam saat nonton film bajakan. Atau saat kau mampu memberikan tawa dari canda receh sarkas dimana jarang sekali orang bisa mengerti apa yang aku lontarkan. Atau saat degupku tak bisa menemukan rima yang tepat kala peluk itu mampir melingkupi tubuhku yang kepayahan. Dan mungkin hanya denganmu aku bisa berhenti minum paracetamol merah itu jika bukan mata sedihmu yang berbicara.

Terimakasih telah hadir di waktu yang tepat.

P, Ilysfm.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...