Jika kau pernah ke sebuah halte bis, tempat menunggu kendaraanmu datang. Kau akan lihat sebuah tempat berbentuk kotak dengan atap dan kursi. Senyaman mungkin. Melindungi kala panas atau hujan. Banyak kursi, kadang ada ayunan. Sering banyak orang jualan. Tempat orang pacaran, sering di pojokan kala malam. Atau berteduh dari lelahnya kerja sepanjang hari. Seringkali menangis waktu dunia sedang tak ramah.
Meski akhirnya mereka semua pergi lupa pamit. Beberapa ada yang berbaik hati mengabadikan halte itu sebagai tempat bersejarah. Banyak yang benci juga dengan vandalisme di kiri dan kanannya.
Tapi dia tetap disana. Tidak bisa berpindah. Tetap menjadi sebuah halte bis.
Yang nyaman untuk gelandangan kesepian, atau tempat para transpuan merokok menunggu nafkah.
Yang melindungimu dari hujan, atau panas terik, atau tempat kala kau menunggu bis mu datang.
Aku, selamanya akan jadi halte itu.
Dan selama itu aku akan selalu berharap kau selalu salah jurusan.
Agar kau tinggal menetap dan tak pernah beranjak.
"Saat api membakar diri sendiri, tunggulah aku jadi kremasi yang bercumbu dengan petrichor di udara, dan membisikan padamu. Aku mencintaimu, meski aku jadi abu"
Minggu, 17 Mei 2020
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Riuh Pandang
Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...
-
Kau adalah api. Menyala dengan kecil yang rapuh dan perlu banyak kayu juga sedikit minyak. Seiring dengan waktu, kau tidak lagi hanya berad...
-
Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar