Minggu, 10 Mei 2020

undangan





Ada sebuah kursi dengan banyak dedaunan yang menjalar. Tiang kayu, lampu yang lucu, tanaman diantara pepohonan, dengan ratusan bangku kayu berjajar rapih, tirai putih, piano juga ada disana.

Iya, selamat datang katamu.

Kau hebat sekali menyiapkan ini semua serapih mungkin. Dengan estetik. Foto di kiri dan kanan, juga cuaca yang cerah. Komorebi nya dapet kau kata. Saat matahari masuk melewati dedaunan. Dan sound systemnya lembut sekali. Kau bisa mendatangkan piano itu di tempat yang tepat.

“Biar kamu enak maininnya”

Aku ingat saat kamu datang dengan senyuman yang paling luas mampir ke pipimu. Kau pesan milkshakes strawberry dan aku teh Tarik dingin. Mentraktirku makanan favoritku sepanjang masa. Nasi goreng Pak Yamin. Dan meminta ku untuk main piano di hari paling penting dalam hidupmu.
Selembar undangan mampir ke mejaku. Beserta sebuah kain putih yang menjadi selendang untuk seragam pernikahan.

Sabtu, 27 April 2019.

Dengan namamu sebagai pengantinnya. Dan kekasihmu yang bersanding disamping namamu. Nuansanya manis sekali. Cream putih dan hijau.

Kau minta aku bermain Banda Neira. Sampai Jadi Debu.

Acara ini tidak akan besar kau bilang. Hanya orang paling berarti dalam hidupmu yang kau undang.

Aku, termasuk. Pusat dunia. Tentu saja, aku adalah tamu kehormatan yang namanya akan selalu 
muncul paling atas dalam list undangan yang baru rilis dua minggu kemarin. Aku adalah yang pertama mendapatkan undangan ini. Kau mengosongkan jadwalku dan mengatur semuanya agar aku datang.

Tentu saja, kau sahabatku yang terbaik. Aku akan datang.

Menghadiri pernikahan terbaikmu, satusatunya.

Pernikahanmu dengan salah satu orang paling hebat yang pernah mampir dalam hidupku.

Semoga kalian bisa saling menjaga.

Karena aku pernah gagal untuk itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...