Ada sebuah kursi dengan banyak dedaunan yang menjalar. Tiang
kayu, lampu yang lucu, tanaman diantara pepohonan, dengan ratusan bangku kayu
berjajar rapih, tirai putih, piano juga ada disana.
Iya, selamat datang katamu.
Kau hebat sekali menyiapkan ini semua serapih mungkin. Dengan
estetik. Foto di kiri dan kanan, juga cuaca yang cerah. Komorebi nya dapet kau
kata. Saat matahari masuk melewati dedaunan. Dan sound systemnya lembut sekali.
Kau bisa mendatangkan piano itu di tempat yang tepat.
“Biar kamu enak maininnya”
Aku ingat saat kamu datang dengan senyuman yang paling luas
mampir ke pipimu. Kau pesan milkshakes strawberry dan aku teh Tarik dingin. Mentraktirku
makanan favoritku sepanjang masa. Nasi goreng Pak Yamin. Dan meminta ku untuk
main piano di hari paling penting dalam hidupmu.
Selembar undangan mampir ke mejaku. Beserta sebuah kain
putih yang menjadi selendang untuk seragam pernikahan.
Sabtu, 27 April 2019.
Dengan namamu sebagai pengantinnya. Dan kekasihmu yang bersanding
disamping namamu. Nuansanya manis sekali. Cream putih dan hijau.
Kau minta aku bermain Banda Neira. Sampai Jadi Debu.
Acara ini tidak akan besar kau bilang. Hanya orang paling
berarti dalam hidupmu yang kau undang.
Aku, termasuk. Pusat dunia. Tentu saja, aku adalah tamu
kehormatan yang namanya akan selalu
muncul paling atas dalam list undangan yang
baru rilis dua minggu kemarin. Aku adalah yang pertama mendapatkan undangan
ini. Kau mengosongkan jadwalku dan mengatur semuanya agar aku datang.
Tentu saja, kau sahabatku yang terbaik. Aku akan
datang.
Menghadiri pernikahan terbaikmu, satusatunya.
Pernikahanmu dengan salah satu orang paling hebat yang
pernah mampir dalam hidupku.
Semoga kalian bisa saling menjaga.
Karena aku pernah gagal untuk itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar