Kamis, 19 November 2020

Aku

 

Aku adalah matahari.

Bukan untuk memberi cahaya untuk bumi dan jagat semesta.

Bukan untuk memudahkan para tanaman mendapatkan fotosintesisnya.

Bukan untuk membantu Ibu menjemur pakaian,Ayah yang menyimpan sepatu di genting agar kering, atau untuk dinikmati kamu di pantai saat aku nyaris tenggelam di ufuk barat.

Aku adalah matahari.

Yang egonya terlalu tinggi karena menjadi satusatunya.

Merasa bahwa hanya aku yang bisa memberikan warna diseluruh tata surya.

Yang punya jiwa begitu membara dan banyak maunya.

Yang tidak punya telinga atau sebuah rasa peka.

Yang tidak pernah paham bahwa semua  makhluk sewajarnya memiliki itu semua.

Aku adalah matahari.

Hanya sebuah bintang yang tak bisa apa-apa, dan hanya mampu melihatmu di sana. Yang jauh tak bertepi. Yang sendiri memandangi langit diantara gersangnya pantai pulau Bali.

Kau yang selalu berusaha mungkin selayaknya kita bersama.

Sayangnya kau salah.

Dekatku, kau akan hancur menjadi debu. Kau yang rapuh makin luruh kala kau ku coba rengkuh. Dimensi berbeda dan kau selalu bilang kita di cipta Tuhan sama. Kau kira hidup ini dunia sastra?

Aku pernah menyukai mu dengan sangat yang tak pernah bisa menjadi satu. Aku pernah ingin menghabiskan waktu mu dengan nyalaku yang tak pernah padam untuk membuatmu selalu terjaga bersama.

Lihatkan? Betapa egoisnya aku?

Padahal kau butuh malam untuk terpejam. Dan aku malah membuatmu tetap hidup agar tak redup.

Sekali lagi, aku adalah matahari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...