Selama ini ku kira aku yang sudah payah mendapat polusi dari
asap rokok, atau knalpot damri, dan seringnya asap arang dari sate depan rumah,
sampai paruparuku payah sebagai paruparu lalu aku tinggal menghitung hari kapan
aku mati.
Rasanya terlalu pasrah untuk tetap hidup tanpa kendali yang
cukup. Seakan semesta menghajar membabi buta. Semua organku babak belur. Sudut mata
kehilangan jalur untuk menangis. Dia tersesat dan tidak bisa menemukan jalan
pulang. Gelap dan kelam. Jauh sunyi terdampar tak perhatian yang didapatkan.
Kadang aku berjalan tanpa memperhatikan jalan. Lupa terhadap
peta yang sudah jelas di depan mata.
Aku terlalu lelah untuk sadar. Aku paham
tentang waktu yang sebentar lagi habis. Dan aku merasa sudah menyerahkan
segalanya meski tidak sesuai ekspetasi.
Hidangan yang mewah, atau berkesan. Semuanya hanya mampir
sekedar melipir. Tidak tinggal lama untuk selamanya. Bunga yang bermekaran dan
dipetik dengan liar untuk dibuat sebagai karangan yang manis pun lenyap di
makan usia senja. Semakin pelik dan aku sekali lagi menyerah.
Sampai tiba-tiba aku tertegun.
Ketika ada sebuah paruparu baru yang memberiku ruang
bernafas lega.
Meski secara logika aku paham kalau paruparu tak bisa
digantikan. Tapi kali ini, aku ingin mencoba.
Apa aku bisa bernafas lama?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar