Kadang aku penasaran
bagaimana hidup orang lain berjalan. Aku membuka beberapa laman media social dan
mencari beberapa teman SD ku yang pernah bilang bahwa ku takkan mampu menjadi
apapun. Aku ingin bilang bahwa perkataan mereka adalah Doa, dan aku sedang
merasakan doa itu terkabul pelan-pelan.
Sebagian sudah
menikah, ada yang malah sudah punya dua anak. Ada yang telah cerai, sisanya
banyak serius dengan hubungan bersama pacar mereka entah di gunung, Yogyakarta,
bahkan luar negeri. Kemarin, aku juga melihat yang masih sendiri dan fokus pada
perbaikan diri, sampai terakhir yang kutahu, ada yang sedang berjuang melawan
depresinya bersama teman-teman atau malah menelannya sendirian.
Ada yang sudah kerja di
banyak tempat ternama, ada yang makin cantik, banyak juga yang tak berubah
rupa. Ada yang sarjana dan enggan S2, ada yang memilih tinggal di Bali sebagai
bartender atau welcoming guest, ada yang punya penghasilan 20 juta perbulan
dari bisnis onine shop nya, ada yang masih terjebak dengan pengaruh kuat
adiktif lem aibon yang kini naik tingkat ke kokain.
Mereka bisa bangun dan
jatuh dengan caranya sendiri.
Lalu aku bagaimana?
Hanya debu kosmik di
antara semesta yang berputar liar di tata surya.
Tak tersentuh, padahal
aku memiliki banyak yang orang lain butuhkan.
Aku cerdas, punya
logika yang kuat, hanya keinginan yang tumbuh tidak sinergi dengan usaha untuk
mendapatkannya.
Aku merenung
belakangan ini. Menghabiskan gaji dengan tiket konser bulan depan untuk punya
alasan bermalam mingguan. Atau nongkrong di café demi foto epic. Kadang traktir
teman beli bakso, sering menghabiskan malam yang panjang dengan langit kamar
yang terlalu benderang.
Mencoba memberi nafas,
aku mengecat kamar.
Putih agak biru. Ku pasang
karpet, ku rapihkan sedikit. Tapi tidak terlalu memberi kontribusi. Lagi-lagi
aku coba tidur tapi tidak tidur. Badanku lelah padahal tak melakukan apa apa. Aku
berada di atmosfer kelam yang gelap dan tersesat.
Ini hanya masalah
waktu. Tentang teman-teman yang kini tak sejalan. Atau manusia yang tak bisa di
percaya bertukar fikiran.
Aku lelah. Tapi aku
enggan pulang. Aku belum punya hal yang bisa ku berikan sebagai timbal balik
untuk orang yang mati-matian memberi sayang. Aku hanya harus melangkah sedikit
lagi. Jadi aku harus mengambil nafas sangat panjang. Menahan racun sebisa
mungkin agar jangan sampai aku dehidrasi,
Lalu mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar