Minggu, 26 Januari 2020

Pagi, Anestesi.


Aku pernah percaya.

Percaya penuh pada visi misi, pada banyak diskusi kosong maupun berisi.

Percaya terhadap pandanganmu terhadap sikap idealis yang terbentuk.
Logika yang berjalan, bagaimana kau memandang masa depan, bagaimana kau memainkan peran di waktu yang gamblang. Bagaimana kau menyanyikan puisi dan teredam diantara dua sajian di hadapan kita.

Aku juga pernah percaya pada tatapan mata yang enggan beranjak dari ku ketika bagaimana aku membahas novel yang pernah sangat ku sukai. Aku menyukainya. Sangat. Candu yang dalam, tenggelam dan aku malah menikmati kala aku hilang nafas, degup berpacu sampai endorphin menguasai otakku dengan liar. Sepersekian detik, kupukupu di perutku berebut merekah dan entah bagaimana, aku bisa rasakan darah yang alirannya terasa nyata berbalap di vena.

Sampai ketika aku rasakan gelombang rasa salah yang menuntun mesra ke lembah tak bertepi, rasanya semudah itu kau mematikan fungsi. Tiba-tiba hambar menjadi rasa yang kita peroleh dengan tak adil. Milikmu adalah tak merasakan apapun. Dan aku, bahkan untuk merasa kebas, ku tak peroleh. Melayang, berada di ruang kosong.. aku jauh dari hampa. Aku kedap. Yang bahkan detak dan degup, nafas, tak punya ruang untuk bergerak.

Hilang arah, tak menyentuh tanah, tak meraih langit, tak berada di tengah keduanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...