Aku pernah percaya.
Percaya penuh pada
visi misi, pada banyak diskusi kosong maupun berisi.
Percaya terhadap
pandanganmu terhadap sikap idealis yang terbentuk.
Logika yang berjalan,
bagaimana kau memandang masa depan, bagaimana kau memainkan peran di waktu yang
gamblang. Bagaimana kau menyanyikan puisi dan teredam diantara dua sajian di
hadapan kita.
Aku juga pernah
percaya pada tatapan mata yang enggan beranjak dari ku ketika bagaimana aku
membahas novel yang pernah sangat ku sukai. Aku menyukainya. Sangat. Candu yang
dalam, tenggelam dan aku malah menikmati kala aku hilang nafas, degup berpacu
sampai endorphin menguasai otakku dengan liar. Sepersekian detik, kupukupu di
perutku berebut merekah dan entah bagaimana, aku bisa rasakan darah yang
alirannya terasa nyata berbalap di vena.
Sampai ketika aku
rasakan gelombang rasa salah yang menuntun mesra ke lembah tak bertepi, rasanya
semudah itu kau mematikan fungsi. Tiba-tiba hambar menjadi rasa yang kita
peroleh dengan tak adil. Milikmu adalah tak merasakan apapun. Dan aku, bahkan
untuk merasa kebas, ku tak peroleh. Melayang, berada di ruang kosong.. aku jauh
dari hampa. Aku kedap. Yang bahkan detak dan degup, nafas, tak punya ruang
untuk bergerak.
Hilang arah, tak
menyentuh tanah, tak meraih langit, tak berada di tengah keduanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar