Rabu, 01 Januari 2020

Pertama lagi


Part 1 of 365
Racun

Mungkin itu kalimat paling tepat untukku saat ini.  Ketika racunnya mulai beradaptasi dengan darahmu melalui vena, dan menyebar mematikan seluruh urat syaraf. Sehingga mematikan indra perasa, bahkan untuk menangis pun tak sanggup.

Rasa peka itu lenyap.

Sakitnya kebas. Di banting, di hajar hingga babak belur hancur lebur dan tidak bisa merasakan apapun. Efek racun yang terlalu kuat. Yang terlalu lama berada di dalam diri. Perlahan menghancurkan. Sampai tinggal rongga yang kosong. Hingga udara pun tak mampu menembusnya. 

Hampa.

Aku sedang berusaha mencari penawarnya. Ketika perlahan hidung mulai mengeluarkan setetes demi setetes. Tungkai makin lemah dan makin hari aku terseok dengan wajah sebagai kaki. Terinjak harga diri mereka yang terus menjungjung tinggi.

Semakin tak berguna.

Tapi mereka tak layak mendapatkan aku yang bahkan tak sanggup berdiri. Mau tak mau aku harus melawan. Meski raga tak sanggup. Meski jiwa merintih. Berteriak tanpa suara. Menyayat diri sendiri dan membiarkan perih itu menguar di udara.

Kau tau kadang suilt untuk bangun dan tetap merasa kuat. Menghadapi dunia yang kejam dan tak berperikemanusiaan. Menjadikan diri makin dibenci. Bahkan bayangan pun menghilang saat gelap datang menyerta.

Ini hari pertama untuk 365 hariku berikutnya. Tapi kenapa pahitnya sampai membuat lidahku kebas dan mati rasa?

Kapan aku bisa tidur tenang tanpa memikirkan esok yang akan datang. Tanpa peduli saat ucapan hanya sekedar kata yang di baca.

Mungkin mereka hanya ingin melihat aku mati perlahan. Menikmati tiap inchi saat ku jatuh ketanah. Toh mereka menyiksa tanpa menyentuh.

Aku harus sabar.

Tapi berapa lama lagi?

Yang lain berlari dan aku yang asma hanya bisa berjalan perlahan. Aku ingin berkembang tapi motivasiku hilang. Jadi aku baru menyadari bahkan semesta tak mau repot berpihak sangka. 

Akhirnya aku yang menelan. Duduk sendirian di pojokan. Menangis tanpa ada yang peduli.

Tidak. Aku menangispun air mata seakan kehilangan sumber mata airnya.

Aku ini apa? Mayat yang diberi nyawa pun hanya setengah? 

Memang tak guna. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...