Part 1 of 365
Racun
Mungkin itu kalimat paling tepat untukku saat ini. Ketika racunnya mulai beradaptasi dengan
darahmu melalui vena, dan menyebar mematikan seluruh urat syaraf. Sehingga mematikan
indra perasa, bahkan untuk menangis pun tak sanggup.
Rasa peka itu lenyap.
Sakitnya kebas. Di banting, di hajar hingga babak belur
hancur lebur dan tidak bisa merasakan apapun. Efek racun yang terlalu kuat. Yang
terlalu lama berada di dalam diri. Perlahan menghancurkan. Sampai tinggal
rongga yang kosong. Hingga udara pun tak mampu menembusnya.
Hampa.
Aku sedang berusaha mencari penawarnya. Ketika perlahan
hidung mulai mengeluarkan setetes demi setetes. Tungkai makin lemah dan makin
hari aku terseok dengan wajah sebagai kaki. Terinjak harga diri mereka yang
terus menjungjung tinggi.
Semakin tak berguna.
Tapi mereka tak layak mendapatkan aku yang bahkan tak
sanggup berdiri. Mau tak mau aku harus melawan. Meski raga tak sanggup. Meski jiwa
merintih. Berteriak tanpa suara. Menyayat diri sendiri dan membiarkan perih itu
menguar di udara.
Kau tau kadang suilt untuk bangun dan tetap merasa kuat. Menghadapi
dunia yang kejam dan tak berperikemanusiaan. Menjadikan diri makin dibenci. Bahkan
bayangan pun menghilang saat gelap datang menyerta.
Ini hari pertama untuk 365 hariku berikutnya. Tapi kenapa
pahitnya sampai membuat lidahku kebas dan mati rasa?
Kapan aku bisa tidur tenang tanpa memikirkan esok yang akan
datang. Tanpa peduli saat ucapan hanya sekedar kata yang di baca.
Mungkin mereka hanya ingin melihat aku mati perlahan. Menikmati
tiap inchi saat ku jatuh ketanah. Toh mereka menyiksa tanpa menyentuh.
Aku harus sabar.
Tapi berapa lama lagi?
Yang lain berlari dan aku yang asma hanya bisa berjalan
perlahan. Aku ingin berkembang tapi motivasiku hilang. Jadi aku baru menyadari
bahkan semesta tak mau repot berpihak sangka.
Akhirnya aku yang menelan. Duduk sendirian
di pojokan. Menangis tanpa ada yang peduli.
Tidak. Aku menangispun air mata seakan kehilangan sumber
mata airnya.
Aku ini apa? Mayat yang diberi nyawa pun hanya setengah?
Memang tak guna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar