Sepertinya gravitasi memang tidak berlaku untuk mereka yang
sedang jatuh cinta.
Aku agak sulit merasakan jemari kaki ketika tak sengaja
jempolku mengenai ujung mata kaki nya barusan. Tiba-tiba ada energy listrik
yang mengalir di seluruh nadiku. Dan itu sangat berlaku terutama ketika dia
tersenyum sampai pelangi membentuk di pipinya.
Alihalih jatuh tak sadarkan diri, aku malah merasa melayang
sepersekian detik dan agak sulit menemukan letak tepat antara rohku dan tubuhku
barusan.
Aku benci perokok.
Tapi melihatnya menghisap rokok itu dengan segala
penghayatan, aku tiba-tiba tertarik mecoba nikmatnya nikotin dengan kopi dan
obrolan kami sepanjang sore itu.
Sial. Kenapa bisa ya?
Selalu datang di saat yang nyaris.
Ketika aku nyaris putus asa dengan segala hal yang ku lakukan,
pekerjaan yang kelewat hebat dan segala macamnya, menghadapi waktu kosong, lalu
tiba-tiba dia hadir. Menawarkan diri untuk sekedar ngopi.
Obrolan kami hanya seputar haha – hihi. Yang sangat sulit
aku dapatkan akhir-akhir ini. Visi misi tentang masa depan yang belum tercapai,
atau masa kini yang sedang dijalani. Kadang merutuki masa lalu yang ceroboh dan
bodoh. Berusaha tidak terjebak dengan ritme yang sama.
Hal yang selalu ia tegaskan, dia suka perempuan. Dan dia
sangat setia. Aku sangat menghormati itu. Beruntung gadis itu. Di pilih
seseorang yang selalu menjadi pilihan orang lain. Prioritas utama. Main course
paling di tunggu, dessert terbaik sebagai pelengkap hidup.
Aku sedang berperang. Sedikit debat. Dengan ego yang tak mau
mengalah untuk mundur.
“Aku suka dia”
Tapi tidak. Aku tak ingin terjebak terlalu mesra. Aku tak
mau hal bodoh yang kulakukan dulu berulang padanya. Lagipula, setia nya dia
pada satu adalah hal yang sangat aku apresiasi terutama dari lelaki seperti
dia.
Semoga kau bisa selalu menjaga gadis itu. Dimanapun,
kapanpun.
Tidak, maksudku.. semoga gadis itu bisa selalu jaga kamu.
Tapi jika ada satu orang yang membuat mu sakit hati, aku
adalah yang pertama kali patah rekah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar