Minggu, 26 Januari 2020

Sense


Kadang aku penasaran bagaimana hidup orang lain berjalan. Aku membuka beberapa laman media social dan mencari beberapa teman SD ku yang pernah bilang bahwa ku takkan mampu menjadi apapun. Aku ingin bilang bahwa perkataan mereka adalah Doa, dan aku sedang merasakan doa itu terkabul pelan-pelan.

Sebagian sudah menikah, ada yang malah sudah punya dua anak. Ada yang telah cerai, sisanya banyak serius dengan hubungan bersama pacar mereka entah di gunung, Yogyakarta, bahkan luar negeri. Kemarin, aku juga melihat yang masih sendiri dan fokus pada perbaikan diri, sampai terakhir yang kutahu, ada yang sedang berjuang melawan depresinya bersama teman-teman atau malah menelannya sendirian.

Ada yang sudah kerja di banyak tempat ternama, ada yang makin cantik, banyak juga yang tak berubah rupa. Ada yang sarjana dan enggan S2, ada yang memilih tinggal di Bali sebagai bartender atau welcoming guest, ada yang punya penghasilan 20 juta perbulan dari bisnis onine shop nya, ada yang masih terjebak dengan pengaruh kuat adiktif lem aibon yang kini naik tingkat ke kokain.
Mereka bisa bangun dan jatuh dengan caranya sendiri.

Lalu aku bagaimana?

Hanya debu kosmik di antara semesta yang berputar liar di tata surya.

Tak tersentuh, padahal aku memiliki banyak yang orang lain butuhkan.

Aku cerdas, punya logika yang kuat, hanya keinginan yang tumbuh tidak sinergi dengan usaha untuk mendapatkannya.

Aku merenung belakangan ini. Menghabiskan gaji dengan tiket konser bulan depan untuk punya alasan bermalam mingguan. Atau nongkrong di café demi foto epic. Kadang traktir teman beli bakso, sering menghabiskan malam yang panjang dengan langit kamar yang terlalu benderang.

Mencoba memberi nafas, aku mengecat kamar.

Putih agak biru. Ku pasang karpet, ku rapihkan sedikit. Tapi tidak terlalu memberi kontribusi. Lagi-lagi aku coba tidur tapi tidak tidur. Badanku lelah padahal tak melakukan apa apa. Aku berada di atmosfer kelam yang gelap dan tersesat.

Ini hanya masalah waktu. Tentang teman-teman yang kini tak sejalan. Atau manusia yang tak bisa di percaya bertukar fikiran.

Aku lelah. Tapi aku enggan pulang. Aku belum punya hal yang bisa ku berikan sebagai timbal balik untuk orang yang mati-matian memberi sayang. Aku hanya harus melangkah sedikit lagi. Jadi aku harus mengambil nafas sangat panjang. Menahan racun sebisa mungkin agar jangan sampai aku dehidrasi, 

Lalu mati.

Pagi, Anestesi.


Aku pernah percaya.

Percaya penuh pada visi misi, pada banyak diskusi kosong maupun berisi.

Percaya terhadap pandanganmu terhadap sikap idealis yang terbentuk.
Logika yang berjalan, bagaimana kau memandang masa depan, bagaimana kau memainkan peran di waktu yang gamblang. Bagaimana kau menyanyikan puisi dan teredam diantara dua sajian di hadapan kita.

Aku juga pernah percaya pada tatapan mata yang enggan beranjak dari ku ketika bagaimana aku membahas novel yang pernah sangat ku sukai. Aku menyukainya. Sangat. Candu yang dalam, tenggelam dan aku malah menikmati kala aku hilang nafas, degup berpacu sampai endorphin menguasai otakku dengan liar. Sepersekian detik, kupukupu di perutku berebut merekah dan entah bagaimana, aku bisa rasakan darah yang alirannya terasa nyata berbalap di vena.

Sampai ketika aku rasakan gelombang rasa salah yang menuntun mesra ke lembah tak bertepi, rasanya semudah itu kau mematikan fungsi. Tiba-tiba hambar menjadi rasa yang kita peroleh dengan tak adil. Milikmu adalah tak merasakan apapun. Dan aku, bahkan untuk merasa kebas, ku tak peroleh. Melayang, berada di ruang kosong.. aku jauh dari hampa. Aku kedap. Yang bahkan detak dan degup, nafas, tak punya ruang untuk bergerak.

Hilang arah, tak menyentuh tanah, tak meraih langit, tak berada di tengah keduanya.

Kamis, 09 Januari 2020

Ruang Duduk di 21.06

Aku harus berhenti menatap pintu.

Atau mengecek instagramku untuk memastikan kau melihat atau tidak aku sedang dimana dan sedang apa.

Atau berusaha kembali focus pada pekerjaanku di depan mata. Menyusun makalah seperti biasa. Untuk memenuhi tugas yang banyak berlubang karena absensi yang sangat buruk belakangan ini. Aku punya alasan kenapa seringkali bolos kelas. Aku bilang pada semua orang kalau aku sibuk bekerja.

Sebenarnya aku agak sulit focus.

Mudah sekali lelah dan pikiranku tidak bisa konsentrasi pada hal remeh dalam hidup.

Sial aku melihat pintu lagi!!

Ku kira kau baru masuk dan tersenyum sedikit. Tapi itu malah orang lain. Perempuan pula!!

Aku tau rasanya bodoh sekali. Padahal aku bisa menghubungimu dan memintamu datang. Seperti yang selalu kulakukan meski kau tidak pernah mau datang. Tapi aku lebih bodoh jika melakukan itu, jadi aku hanya seperti kebanyakan perempuan lain. Aku memberimu kode.

Oke itu lebih lebih lebih bodoh lagi.

Jadi aku harus bagaimana??

Ini sudah nyaris 6 bulan. Kau tau itu setengah tahun yang panjang!! Aku harus berpuasa menahan jumpa. Haha lebay ya. Tapi sial itu memang sulit sekali. Aku mengutuk bodohnya aku kemarin-kemarin tentang memastikan kau masih hidup. Baikbaik saja entah dengan siapapun kau menghabiskan waktu.

Eh iya kau tau? Kode ku malah di artikan banyak orang kalau aku memberitahu mereka dimana posisi ku saat ini. Aku harus berputar otak agar menyampaikan bukan mereka yang ingin aku temui. 

Ah kenapa aku sebodoh ini ya??!!!

Aku lelah.

Baik. Kemarilah segera!

Aku menunggu! Lekas! Aku akan belikan kau crème brulee!!!

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...