Aku masih tidak mengerti.
Kenapa ya akhir-akhir ini
pikiranku terbang melayang jauh tidak menyentuh dasar seperti biasanya. Tidak bernafas
dengan baik, sampai kadang-kadang aku lupa untuk menarik napas dan lebih banyak
menghembuskannya berat sekali.
Pekerjaanku tidak sehebat kemarin
sore. Masalah kuliahku muncul karena sebelumnya aku enteng mengabaikannya. Di rumahku
baikbaik saja tidak ada yang terlalu serius. Oh ya aku punya kucing baru. Kecil
warnanya hitam putih dan dia tidak berkutu.
Aku sedang sibuk membuat diriku
sibuk.
Entah dengan membaca buku yang
dulu pernah ku dapatkan dengan harga 5ribu lalu ku jual seharga 20rb dan ku
beli lagi seharga 12ribu. Ya apapun untuk membuatku sibuk.
Aku tidak terlalu tertarik minum
kopi tapi ketika aku ingin aku membelinya. Seperti sekarang. Aku pesan
affogatto seharga 28 ribu. Mahal juga di tengah krisis yang aku alami. Tapi apapun
untuk membuatku tenang.
Akhir-akhir ini aku merasa
seringkali aku mendramatisir segala hal. Yang mudah di buat ribet. Dengan kemampuan
otakku menganalisa segala sesuatu dengan sangat tidak tepat. Mati dalam
persepsi ku sendiri. Aku lelah. Tapi tak bisa tidur. Aku ingin pergi, tapi aku
tak punya tujuan pulang.
Rumahku, hilang.
Bicara tentang rumah, aku tak
pernah mengganggapmu rumah. Karena rumah adalah tempat dimana aku bisa menjadi
diriku sendiri. Dimana aku bisa beristirahat, bercerita tentang hari yang ku
alami, atau menikmati eskrim tengah malam. Tempat untukku mencoba hal baru atau
mengulang kebiasaan.
Dan kau bukan tempat yang tepat untukku melakukan itu
semua. Aku sadar. Sepenuhnya sadar.
Namun otak bawah sadarku selalu
meminta hal itu. Mengatur entah bagaimana caranya agar aku yang jelasjelas
menyadari mungkin kau bukan orang yang tepat, tapi aku menuntut kau untuk
menjadi tepat.
Aku kesal ketika melihat kau
pergi ke satu kota membonceng perempuan yang tak ku tahu itu siapa. Mungkin itu
temanmu. Tapi ada rasa mengganjal yang tidak enak dan membuatku mual karena
hebatnya imajinasiku membentuk paradigma dan asumsi.
Obsesiku tidak sehat. Aku jadi
jelmaan psycho menghantuimu yang bodohnya tanpa kau sadari. Aku seperti berada
sebagai bayangbayang tapi bahkan kau tak peduli jika cahaya berhenti membiasmu.
Aku seperti hamster yang berlari di sebuah kincir dan kau porosnya. Mengendalikanku
yang berputar tak kenal henti meski harus merangkak dengan wajah karena lelah.
Pertanyaanku selalu sama. Kapan aku
mau berhenti ya?
Kenapa kau lebih parah dari semua
narkoba yang pernah dicoba manusia? Kenapa rasa ketergantungan yang ku rasakan
mengerikan? Aku mencoba menutup semua akses yang ku miliki untuk menyentuhmu. Lebih
baik tidak tahu daripada aku sakit hati. Bodohnya aku malah penasaran setengah
mati. Mencoba tidak peduli tapi rasanya sia-sia.
Itu mungkin penyebab kenapa aku
makin tidak bisa konsentrasi penuh akhir-akhir ini. Yang membuatku sulit focus tak
hanya untuk satu soal tapi untuk keseluruhan probelematika pelik yang aku
alami.
Aku bahkan tidak tahu apa aku
harus tetap mendoakanmu atau berhenti.
Aku tidak memiliki petunjuk
jelas. Aku kebingungan dan tersesat. Mencarimu dalam map yang rumit dan aku
sulit untuk bisa paham juga mengerti.
Aku tidak butuh oranglain.
Aku lelah merusak diriku dan
kepercayaan yang seharusnya masih bisa melekat di hidupku tapi tak bisa aku
dapatkan kembali.
Rasanya aneh. Tak menentu.
Jiwaku sedang sakit dan aku tidak
tahu bagaimana menyembuhkannya. Apa obat yang tepat tanpa membuatnya semakin
sakit tak terkendali. Aku tidak mengerti langkah pertama apa yang harus aku
lakukan untuk membuat segalanya menjadi lebih baik.
Saat ini aku duduk di tepi
jendela. Melihat motor mobil yang lewat. Kemungkinan kau lewat sini adalah
tidak ada. Tapi bisa melihatmu sekali lagi saja. Berbicara apapun, atau hanya
bisa melihat kau tersenyum. Atau kau memainkan kartumu, atau ponselmu juga
tidak mengapa. Aku butuh berjam-jam tuk kuhabiskan sia-sia melihatmu melakukan
yang tidak tahu itu apa.
Dan aku masih bersemoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar