Jumat, 13 September 2019

Awang


Aku masih tidak mengerti.

Kenapa ya akhir-akhir ini pikiranku terbang melayang jauh tidak menyentuh dasar seperti biasanya. Tidak bernafas dengan baik, sampai kadang-kadang aku lupa untuk menarik napas dan lebih banyak menghembuskannya berat sekali.

Pekerjaanku tidak sehebat kemarin sore. Masalah kuliahku muncul karena sebelumnya aku enteng mengabaikannya. Di rumahku baikbaik saja tidak ada yang terlalu serius. Oh ya aku punya kucing baru. Kecil warnanya hitam putih dan dia tidak berkutu.

Aku sedang sibuk membuat diriku sibuk.

Entah dengan membaca buku yang dulu pernah ku dapatkan dengan harga 5ribu lalu ku jual seharga 20rb dan ku beli lagi seharga 12ribu. Ya apapun untuk membuatku sibuk.

Aku tidak terlalu tertarik minum kopi tapi ketika aku ingin aku membelinya. Seperti sekarang. Aku pesan affogatto seharga 28 ribu. Mahal juga di tengah krisis yang aku alami. Tapi apapun untuk membuatku tenang.

Akhir-akhir ini aku merasa seringkali aku mendramatisir segala hal. Yang mudah di buat ribet. Dengan kemampuan otakku menganalisa segala sesuatu dengan sangat tidak tepat. Mati dalam persepsi ku sendiri. Aku lelah. Tapi tak bisa tidur. Aku ingin pergi, tapi aku tak punya tujuan pulang.

Rumahku, hilang.

Bicara tentang rumah, aku tak pernah mengganggapmu rumah. Karena rumah adalah tempat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri. Dimana aku bisa beristirahat, bercerita tentang hari yang ku alami, atau menikmati eskrim tengah malam. Tempat untukku mencoba hal baru atau mengulang kebiasaan. 

Dan kau bukan tempat yang tepat untukku melakukan itu semua. Aku sadar. Sepenuhnya sadar.

Namun otak bawah sadarku selalu meminta hal itu. Mengatur entah bagaimana caranya agar aku yang jelasjelas menyadari mungkin kau bukan orang yang tepat, tapi aku menuntut kau untuk menjadi tepat.

Aku kesal ketika melihat kau pergi ke satu kota membonceng perempuan yang tak ku tahu itu siapa. Mungkin itu temanmu. Tapi ada rasa mengganjal yang tidak enak dan membuatku mual karena hebatnya imajinasiku membentuk paradigma dan asumsi.

Obsesiku tidak sehat. Aku jadi jelmaan psycho menghantuimu yang bodohnya tanpa kau sadari. Aku seperti berada sebagai bayangbayang tapi bahkan kau tak peduli jika cahaya berhenti membiasmu. Aku seperti hamster yang berlari di sebuah kincir dan kau porosnya. Mengendalikanku yang berputar tak kenal henti meski harus merangkak dengan wajah karena lelah.

Pertanyaanku selalu sama. Kapan aku mau berhenti ya?

Kenapa kau lebih parah dari semua narkoba yang pernah dicoba manusia? Kenapa rasa ketergantungan yang ku rasakan mengerikan? Aku mencoba menutup semua akses yang ku miliki untuk menyentuhmu. Lebih baik tidak tahu daripada aku sakit hati. Bodohnya aku malah penasaran setengah mati. Mencoba tidak peduli tapi rasanya sia-sia.

Itu mungkin penyebab kenapa aku makin tidak bisa konsentrasi penuh akhir-akhir ini. Yang membuatku sulit focus tak hanya untuk satu soal tapi untuk keseluruhan probelematika pelik yang aku alami.

Aku bahkan tidak tahu apa aku harus tetap mendoakanmu atau berhenti.

Aku tidak memiliki petunjuk jelas. Aku kebingungan dan tersesat. Mencarimu dalam map yang rumit dan aku sulit untuk bisa paham juga mengerti.

Aku tidak butuh oranglain.

Aku lelah merusak diriku dan kepercayaan yang seharusnya masih bisa melekat di hidupku tapi tak bisa aku dapatkan kembali.

Rasanya aneh. Tak menentu.

Jiwaku sedang sakit dan aku tidak tahu bagaimana menyembuhkannya. Apa obat yang tepat tanpa membuatnya semakin sakit tak terkendali. Aku tidak mengerti langkah pertama apa yang harus aku lakukan untuk membuat segalanya menjadi lebih baik.

Saat ini aku duduk di tepi jendela. Melihat motor mobil yang lewat. Kemungkinan kau lewat sini adalah tidak ada. Tapi bisa melihatmu sekali lagi saja. Berbicara apapun, atau hanya bisa melihat kau tersenyum. Atau kau memainkan kartumu, atau ponselmu juga tidak mengapa. Aku butuh berjam-jam tuk kuhabiskan sia-sia melihatmu melakukan yang tidak tahu itu apa.

Dan aku masih bersemoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...