Jumat, 13 September 2019

mood


Kemarin aku tiba-tiba ingin ke Istana Plaza.

Entah kenapa hanya feelingku kuat ingin kesana.
Jadi ketika aku pulang, aku berusaha tepat pukul 4 saat matahari sedang cantik namun satu sisi mengerikan karena efeknya benar-benar  parah. Kekeringan, kebakaran hutan. Dan aku masih menganggapnya senja yang indah.

Aku duduk di sebuah angkutan kota menelusuri jalanan yang rindang dan kadangkadang aku melihat sinar matahari diantara dedaunan. Sambil memikirkan, apa yang sedang kau lakukan ya?

Apa mungkin kau sedang di kamarmu memainkan lagu? Atau belajar teknik kartu yang baru? Atau kau hanya tiduran? Atau kau sibuk dengan kesibukan yang aku tidak tahu itu apa. Tapi seperti bagaimana kebiasaan otakku bekerja, aku selalu memikirkan kau baik baik saja dengan segala hal yang kau lakukan. Bagaimana kau memulai harimu dengan baik. Tidur menjelang pagi, bangun di tengah siang. Dengan celana boxer atau kaos lengan panjang kau bangun. Rambut berantakan, dan ah sial aku jadi kesal tak bisa melihatmu saat itu.

Oh ya beberapa hari kemarin aku menemuimu dalam mimpi. Kau manis sekali. Dengan cara yang menyenangkan kau tersenyum padaku. Aku lupa aku bilang apa tapi aku ingat betapa tatapanku bisa mengartikan betapa aku sangat suka melihatmu melihatku.

Lalu aku terbangun. Dan sangat sedih menyadari itu hanya mimpi.

Oh ya, aku akhirnya tiba di mall ini. Ini mall yang katanya akan mati sebentar lagi. Banyak tenant nya yang tutup karena management nya buruk. Tapi aku masih bersyukur banyak tenant yang ku sukai masih berdiri. Gramedia sedang mengadakan diskon yang cukup hebat. Banyak buku yang didiskon murah dan aku membeli beberapa. Aku juga membeli tiket nonton. Aku nonton sendiri tapi kemudian aku keluar lagi.

Lalu aku beli kopi. Tapi kopinya tidak enak. Aku menyesal membelinya.

Aku Cuma duduk di tepi kursi sendiri lalu aku menelefon teman-temanku siapa tau mereka bisa datang sekedar menjadi teman.

Tapi tidak ada yang datang. Jadi aku melamun lagi.

Tempat itu sudah berubah ya. Tapi aku masih banyak mengingat hal baik di tempat itu.

Bagaimana aku benar-benar menyukai berada disana. Bagaimana aku bisa jatuh cinta pada hal kecil yang kubuat saat beberpa jam aku disana. Aku ingat saat kau tersenyum. Aku ingat saat kau bilang sweeterku bagus. Aku ingat saat ternyata kau membeli sweeter serupa berwarna abuabu.

Aku jadi ingin pulang dan memakai sweeter itu.

Aku juga ingat tentang buku dilan yang pernah kau berikan. Dengan tandatangan di dalamya. Aku sangat sedih karena itu hal terbaik yang terakhir bisa kau beri setelah melepasku seperti itu.

Kenapa ya aku bodoh sekali?

Kenapa ya aku jahat sekali!

Kemana moralku saat itu? Aku sedih hingga hari ini dan mengutuk kenapa aku bisa sebodoh itu.

Aku belum pernah mengatakan ini padamu.

Aku minta maaf.

Untuk semua kebodohan yang pernah aku lakukan. Aku tidak pernah sekalipun berhenti untuk menyukaimu. Lebay mungkin jika kau baca ini sekarang. Aku tertawa juga.

Tapi percayalah satu hal.

Dari semua kehidupan dan kebodohan yang aku alami, aku berusaha entah bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan perhatianmu kembali. Meski aku tahu itu salah.

Sangat sangat salah. Dan aku merutuki dosaku lagi.

Maaf. Maaf dan maaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...