Sebuah surat untukmu yang mungkin
suatu saat nanti kau akan baca.
***
Dear Wi,
Ini entah tahun keberapa aku bisa
mengenal kamu. Lewat sebuah buku yang kita tak pernah tahu isinya apa, tapi kau
yang mengambilnya di tempatku dulu. Dengan sweeter Christmas merah yang kau
kenakan dan senyum paling manis yang bisa kuingat. Dulu aku hanya tahu kamu
sebatas nama, tanggal lahir, dan janjiku pada diriku sendiri untuk memberikan
yang terbaik saat bulan lahirmu tiba.
Aku sangat berterimakasih pada
kesempatan yang Allah berikan padaku untuk bisa mengenalmu lebih jauh. Termasuk
saat kamu datang kembali dengan masker yang mati-matian kau cari demi menutupi
wajahmu. Padahal dari entah jarak sekian aku sudah bisa menghirup parfum yang
kau pakai. Bagaimana aku bisa sangat gembira saat kau datang dan menanyakanku
buku yang kita tau, tak pernah ada. Dan hingga detik ini, saat kau membaca ini.
Aku masih sangat senang bahkan sekedar untuk mengingatnya.
Hutan tempat kau membawaku di
lima belas maret hari itu juga sangat aku ingat. Orchid belum rampung menjadi
tempat wisata. Masih banyak yang balapan liar dan jeep offroad, tapi masih
memiliki sunset yang indah ketika motor menuruni bukit untuk pulang. Senja nya
di tutupi dedaunan dan angin sepoi masih sering membelai lembut dedaunan yang
turun terterpa.
Senyum itu yang selalu membuatku
jatuh hati. Ketika video ucapan ulang tahun yang ku buat sangat sederhana itu
bisa menyentuh hatimu yang dulu beku padaku. Bagaimana matamu berucap
terimakasih dan aku bersyukur pada Allah yang menciptakan senyum seindah itu
untukmu.
Bagaimana, apa kau masih ingat
saat kita ke toko buku Palasari untuk mencari buku? Aku sangat bingung buku apa
yang harus kucari. Aku mencari daftar buku yang harus ku temukan dan saat aku
mendapatkannya, tak kusangka aku bahagia. Terlebih saat kau memejamkan mata
kala ku berikanmu aroma buku yang lembarannya ku buka perlahan-lahan. Sial, kau
selalu tau cara membuat orang begitu memuja.
Aku tahu dulu aku melakukan
kebodohan yang sangat bodoh. Bodoh sampai setiap aku mengingatnya aku mengutuk
diriku sendiri. Aku merasa menjadi manusia paling tak berguna. Kejadian yang
mungkin kau maafkan tapi tak kau lupakan. Dan aku tak pernah memaafkan diriku
tentang itu. Aku selalu menyukaimu. Selalu. Dan tak pernah berubah.
Mungkin aku sering jalan dengan
banyak orang. Aku dekat dengan banyak laki-laki yang mampir dan kau tahu? Mereka
hanya figuran. Dan kau selalu jadi tokoh utama. Aku menyesal pernah dekat dan
bukannya menjaga diriku untukmu kelak. Aku hanya bisa menjaga hati agar tak
lagi sembarang di rasuki. Entah sugesti atau apa. Tapi aku selalu berusaha
menjadi seperti yang ku bayangkan bagaimana menjadi wanita yang pantas kau dampingi.
Aku berusaha menjadi lebih cantik,
pintar. Bekerja keras agar aku kaya. Aku ingin menjadi seorang yang terkenal
agar kau tak malu membawaku dalam cerita diantara teman-temanmu. Aku berusaha
menjadi yang sempurna meski yang kulakukan malah sebaliknya.
Kadang aku kalut. Kalut yang
sangat.
Aku bingung tentang apa yang
harus ku perbuat. Aku benar-benar ingin membuat diriku bisa bersamamu kelak. Dalam
kebersamaan yang tak pernah terwujud. Kau selalu menjadi rumah disaat ku ingin
pulang. Mendapatkanmu aku tak ingin yang lain lagi. Kau, dan segalanya menjadi
lebih dari cukup. Aku berterimakasih pada dunia karena membuatmu hidup
didalamnya. Di kota yang sama, dalam waktu yang percis.
Seringkali aku berdoa dalam diam
memohon harimu berjalan baik, kesehatan melingkupimu selalu dan apapun yang kau
lakukan berjalan lancar. Meski aku tak terlibat langsung, caraku berkomunikasi
padamu hanya lewat doa yang ku panjatkan sepanjang malam. Dalam draft yang tak
pernah ku kirim ke ruang obrolanmu atau postingan berisimu yang ku hide agar
kau tak melihat betapa bodohnya aku melakukan semua itu.
Aku pernah membayangkan dalam
sebuah narasi (YANG SEMOGA TAK PERNAH TERJADI).
Dalam sebuah taman. Aku melihatmu
berdiri dengan jas cream yang pas membentuk lekuk tubuh. Rambutmu di tata rapi.
Kumis tipis itu tampak serasi membingkai mu yang suci. Kau menatap rangkaian
bunga yang cantik. Dan melihat dedaunan yang membentang di sepanjang langit. Lalu
kau tersenyum saat aku melihatmu.
Senyum yang selalu sama. Senyum yang
membuat siapapun bisa jatuh hati dengan cara jatuh paling sengaja. Kau akan
menyambutku dengan lengan di sebelah saku. Baju putihmu agak keluar dan
berteriak minta ku rapikan. Aku berdiri disini, disisi yang menghadapmu dalam
jarak lima meter. Dengan gaun tunik berwarna senada. Aku menciptakan diriku
sebaik mungkin untuk kau ingat di hari besarmu. Dan semua kenangan yang kita
cipta terputar kembali di otakku. Memaksa air mata turun tanpa sengaja. Tanpa di
perintah. Dia terharu.
Meski.
Pada akhirnya, aku menangis
melihatmu bersama nya. Perempuan yang tak pernah ku tahu itu siapa tapi sialnya
begitu amat sangat beruntung mengemban tugas mendampingimu sampai mati. Yang akan
menghasilkan buah hati sebanyak yang kau mau. Aku akan menyesali hari dimana
aku pernah menyia nyiakan waktu untuk berusaha. Aku akan mengutuk hari dimana
aku ketimbang berdoa malah lebih memilih berteriak di twitter berharap kau
peka. Aku kecewa pada diriku sendiri yang membangun hari bahagia dengan mu
hanya lewat lamunan di bis kota setiap pagi dan saat aku merebah dari riuhnya
hari ketika aku akan tidur.
Aku memang bahagia jika kau
bahagia.
Tapi jika caramu bahagia
bersamanya aku rasa itu tak masuk resolusi hidupku.
Aku yang seharusnya berada
menjadi pendamping meski untuk berada disampingmu pun ku tak mampu. Aku yang
harusnya menciptakan senyum itu setiap saat dan bertugas menjadi seseorang yang
mengucap selamat pagi di semua pagimu. Memaksa diri untuk mempelajari resep
makanan yang kau suka. Berada dalam frame foto kapanpun kamera ada. Merawatmu ketika
kau butuh atau mencari referensi buku yang bisa kita cari untuk bermalam
minggu. Memberimu lelaki kecil yang akan memanggilmu Papa atau gadis kecil yang
tak mau pipimu di cium bahkan oleh istrinya sendiri.
Tapi aku tidak bisa.
Aku berusaha dan aku tidak akan
berusaha lagi ketika harimu tiba.
Hari dimana kita tak lagi
menyimpan cerita.
Hari dimana kau membuat ceritamu
sendiri untuk bisa kau bagi dengan semua orang kecuali aku.
Aku tidak akan pernah mau tahu
denganmu. Aku berhenti dalam ketetapan abadi. Aku akan mengabdi pada diri
sendiri. Membuat terapi agar aku lupa caranya sakit hati.
Namun aku masih akan berdoa meski
untuk terakhir kalinya.
Untukmu semoga kau selalu
bahagia. Selamanya.
Dari aku,
Yang.. kau tahu. Dan kau selalu
tahu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar