Jumat, 24 Desember 2021

perbedaan

Sesuatu yang berbeda tidak selamanya buruk. Aku baru mengamininya dalam satu sore yang panjang dan hujan. Dengan cumi bakar manis yang sempat ku cicipi sedikit serta makaroni rebus dengan sosis dan saos yang kelewat banyak. Berdiri dibawah payung teh botol sosro yang terisi 6 orang lainnya. Empat perempuan dengan celana jeans, kemeja katun bergaris merah dan kerudung hitam. Keempatnya menggunakan outfit yang sama. Mungkin mereka memang berencana memakai baju persahabatan untuk perpisahan yang berkesan di acara konser musik besar berkedok pensi sekolah menengah atas negeri. Keempatnya agak sinis melihat aku yang hanya memakai kerudung biru, baju rajut abu dengan celana kulot navy yang mengunyah serpihan beef bacon yang terselip diantara pasta keju.

Tidak, bukan aku yang kumaksud berbeda seperti pada prolog tadi. Aku belum selesai mendeskripsikan sore yang basah di bulan November itu. Aku belum menceritakan betapa kacaunya panggung dengan penonton yang tidak berbekal jas hujan ponco. Aku belum cerita tentang para penjual jas hujan yang sangat menarik cuan yang tinggi dengan menjual jas hujan itu seharga 50ribu per stelnya. Aku belum cerita bahwa kami lebih mirip ayam sd yang di warna warni yang mengejar anak kecil ketimbang remaja tanggung yang menunggu sheila on 7 jam 10 nanti. Aku belum cerita tentang konser ke tiga yang ku hadiri dan kali ini aku tidak sendiri.

Ya itulah bedanya. Kali ini aku tidak lagi sendiri.

Tapi Orang ini bukan teman sekerja ku yang berisik tiap kali ada hal yang membuatnya tak nyaman seperti riuhnya manusia di tengah lapang padahal seharusnya dia sadar bahwa konser musik jarang sekali sepi. Orang ini bukan juga yang malah bermain ponsel dan mengabari pacarnya yang posesif sampai video call untuk membuktikan bahwa dia tidak hanya pergi dengan aku. Orang ini juga bukan yang tiba-tiba memegang tanganku tanpa permisi memastikan aku tidak hilang karena dia tidak ada teman tunggu gojek untuk pulang.

Orang ini adalah yang kutemui sebulan sebelumnya di sebuah kota kecil dengan populasi yang tidak padat tapi memutuskan membuka cabang kerumunan yang ke 18 di bawah mata elang area managerku. Orang ini yang bertanggungjawab untuk melakukan project pertamanya membangun chemistry para tenaga kerja baru dari berbagai sudut kota dan latar belakang beragam untuk menjadi satu dalam logo yang sama. Tapi diluar semua hal teknis tadi, orang ini adalah satu-satunya yang bisa kusebut, seseorang.

Seperti kebanyakan orang yang pertama bertemu, mereka tidak akan banyak bicara hal penting yang terlalu dalam. Biasanya mereka hanya akan bertanya latar belakang pendidikan atau tempat tinggalmu saat ini dimana. Percakapanku dimulai dari, “Belum makan? Yuk makan” dalam kondisi aku yang berusaha tidak panik saat lupa menyimpan dompet dengan uang sebulanku didalamnya. Dan 'dibayarin' bukan kamus yang ramah dalam semua rules tak tertulisku di setiap pertemuan pertama.

Selama berjalan sambil menentukan mau makan apa, aku membuka lebih banyak ruang bicara dengan membahas mengenai latihan dance kpop nya para dance cover kota kecil ini. Dalam relung aku sedikit ingat tentang masa lalu yang menggelikan dimana sorak sorai penonton mengelukan nama idola yang kuperankan diatas panggung beberapa tahun silam. Berlanjut pelan ke selera musik, sampai kita menemukan topik yang sama yaitu konser pensi diawal bulan.

Entah karena pembawaannya yang menyenangkan, atau seluruh kalimat yang keluar bisa terangkai dengan mudah begitu saja, atau memang chemistry yang terbentuk tiba-tiba begitu lezat, aku secara sadar bergumam dalam hati bahwa dari semua tiket konser yang sengaja selalu ku beli dua sekaligus dengan anggapan bahwa mengajak orang nonton gratis itu mudah (tapi zonk semua), orang ini adalah yang paling tepat untuk bisa sharing hobi foya-foya yang sama.

Dan benar. Sejauh ini sangat tepat. Dia berkomunikasi denganku dengan porsi yang cukup. Mengingat informasi yang kudapat dari sumber data yang tidak bisa di percaya yang sialnya selalu tepat, dia mengalami minggu yang berat. Dia dan aku punya selera makan yang tidak jauh beda meski lidahnya tidak bisa toleransi pada sensasi pedas. Dia payah makan bubuk cabe padahal aku menggilai itu hingga menjilatnya dibawah kuku.

Agak terkejut adalah dia memiliki kebiasaan aneh untuk membelikan orang asing seperti ku apa saja yang aku mau. Bukan hal biasa karena aku terbiasa melakukan apapun dan membeli apapun sendirian. Terutama makanan. Dan dia bukan tipe yang membiarkan orang lain membayar. Agak aneh untukku karena sepertinya aku butuh next time xtra untuk membalas budi. Padahal kupikir next time terlalu berlebihan.

Hebatnya, orang ini selalu bisa mengalihkan perhatian kecil yang mengganggu dikepalaku dan tiba-tiba menggantikannya menjadi sebuah kenangan yang lucu dan baru. Dia berhasil membuatku mengajaknya ke tempat sakral yang merupakan tempat favoritku dengan masalalu seakan menggantikan kehadiran yang tak pernah hadir. Secara mengejutkan, semua hal yang pernah membuatku babak belur disana terkubur serentak.

Kadang aku harusnya tau kalau ceritanya mungkin akan berakhir sama seperti banyak kisah lama. Pada akhirnya semua akan tersandung di paragraf dimana aku kembali pada pemeran utama. Tapi seperti kataku, entah bagaimana. Tuhan turut serta membuatku lupa tentang semua tempat penghubung anxiety disorderku itu. 

Hal yang kukira letak perbedaannya terlalu tinggi. Mengapa orang ini bisa berbeda ya? Apa yang membuatnya terlalu pekat diantara semua warna pudar?


yah, seperti yang kukatakan diawal tadi. berbeda tidak selamanya buruk. dan perbedaan yang ku temui saat ini adalah perbedaan terbaik yang pernah kutemukan.

Terima kasih, Perbedaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...