Seperti lelah yang tak kunjung menemukan ujung, perlahan
kehilangan minat pada bunga yang bermekaran sepanjang tahun.
Merasa kalau, taktik yang selama ini ku tanam, sudah di tuai
dengan buas dan liar sampai membelit dirinya sendiri. Terjebak menjadi
herbivora yang salah, dan kini sepertinya tidak lagi.
Aku berhenti.
Tidak, aku tidak kembali pada hamparan savanna itu. Dia sudah
membumi hanguskan segala pelangi yang kukira muncul setelah hujan. Bahkan,
hujan pun tidak pernah turun. Oase yang kukira berada ditengah kita pun
sesungguhnya hanya fatamorgana. Jadi, aku minum air putih yang banyak dan
membuat otakku tetap sadar. Aku tidak bisa kembali lagi pada gurun yang tak memberi
nafas itu lagi.
Berada diantara langit yang kadang jernih, seringnya kelabu
dan pekat. Tapi aku juga enggan menapakkan diri pada bumi yang basah, becek,
banjir, kering, tandus. Berubah-ubah seperti mood perempuan yang berdarah
setiap bulan.
Kadang aku bertanya. Apa sudah hilang?
Tapi kadang tarikannya kuat sekali. Sampai aku tak bisa
bernafas karena mencekik pergelangan tanganku sampai paru-paru lupa kalau dia tak
punya hubungan dengan nadi.
Adiktif yang perlahan mengikis menjadi korosif. Berkarat. Dan
lengket dengan besi. Tak tersentuh. Oleh basa sekalipun. Semakin merasuk ke
rusuk. Menyerap energy hidup menjadi suri yang membentur. Tak pelak hilangkan
semua indra perasa. Lumpuh. Stroke. Hanya bisa mendengar. Bisu dan buta.
Baik, aku hanya lelah.
Mungkin aku butuh sandaran. Bisakah kau pulang?
Aku, menunggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar