Rabu, 01 April 2020

Korosif



Seperti lelah yang tak kunjung menemukan ujung, perlahan kehilangan minat pada bunga yang bermekaran sepanjang tahun.

Merasa kalau, taktik yang selama ini ku tanam, sudah di tuai dengan buas dan liar sampai membelit dirinya sendiri. Terjebak menjadi herbivora yang salah, dan kini sepertinya tidak lagi.

Aku berhenti.

Tidak, aku tidak kembali pada hamparan savanna itu. Dia sudah membumi hanguskan segala pelangi yang kukira muncul setelah hujan. Bahkan, hujan pun tidak pernah turun. Oase yang kukira berada ditengah kita pun sesungguhnya hanya fatamorgana. Jadi, aku minum air putih yang banyak dan membuat otakku tetap sadar. Aku tidak bisa kembali lagi pada gurun yang tak memberi nafas itu lagi.

Berada diantara langit yang kadang jernih, seringnya kelabu dan pekat. Tapi aku juga enggan menapakkan diri pada bumi yang basah, becek, banjir, kering, tandus. Berubah-ubah seperti mood perempuan yang berdarah setiap bulan.

Kadang aku bertanya. Apa sudah hilang?

Tapi kadang tarikannya kuat sekali. Sampai aku tak bisa bernafas karena mencekik pergelangan tanganku sampai paru-paru lupa kalau dia tak punya hubungan dengan nadi.

Adiktif yang perlahan mengikis menjadi korosif. Berkarat. Dan lengket dengan besi. Tak tersentuh. Oleh basa sekalipun. Semakin merasuk ke rusuk. Menyerap energy hidup menjadi suri yang membentur. Tak pelak hilangkan semua indra perasa. Lumpuh. Stroke. Hanya bisa mendengar. Bisu dan buta.

Baik, aku hanya lelah.

Mungkin aku butuh sandaran. Bisakah kau pulang?
Aku, menunggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...