Kita terbentuk dari kalut yang percis. Angkasa yang tak ramah dan tanah yang tidak mau diam.
Resah adalah nafas yang kita hirup untuk hidup dan gugup menjadi semacam parkinson yang merusak saraf.
Kita hancur dengan cara kita masing-masing.
Kita tidak bisa bangun dari mimpi yang memabukkan pada objek vitalitas yang berbeda bentuk.
Bagaimana kau bisa bertahan dan aku bisa tetap berdiri tegak meski jatuh lumpuh berkalikali?
Selain keyakinan bahwa kabut bisa tersingkirkan, langit akan punya matahari dan tanah menumbuhkan rasa yang selama ini kita harapkan.
Kita pernah punya harap batin ini lenyap.
serupa tak punya rasa.
menjalani skema yang berjalan dengan perlahan.
setidaknya akan menyelamatkan dari gundah sepanjang resah.
Apa bisa?
Jika paradgima kita menyuntikan energi negatif itu pada dirinya sendiri?
Oh tentu saja,
Tidak pernah bisa.
"Saat api membakar diri sendiri, tunggulah aku jadi kremasi yang bercumbu dengan petrichor di udara, dan membisikan padamu. Aku mencintaimu, meski aku jadi abu"
Jumat, 17 April 2020
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Riuh Pandang
Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...
-
Kau adalah api. Menyala dengan kecil yang rapuh dan perlu banyak kayu juga sedikit minyak. Seiring dengan waktu, kau tidak lagi hanya berad...
-
Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar