Aku, 02.40 Pagi.
Apa kau pernah membayangkan rasanya jadi permen kapas?
manis, besar, indah, dan warna warni.
tapi mudah lenyap. dan hilang. dan pergi tanpa jejak.
padahal menunggu adalah kegiatan yang sangat menyebalkan. tapi menunggu permen kapas juga adalah kegiatan yang menyenangkan. terutama kala dia sudah sangat besar dan dibentuk dengan banyak bentuk.
Tapi tetap saja.
Dia mudah sekali hilang.
Tanpa jejak.
Walau tetap menyenangkan melihatnya terbentuk. dan rasanya di lidah. Endorfinku bermekaran dan perasaan senang dari gula menguasai otak dengan buas.
Malah kadang tidak bisa berfikir jernih.
Meski kembali lagi, setelah manisnya selesai, wujudnya juga pergi.
Ah, Maaf, kau tak usah membayangkan rasanya jadi permen kapas.
Kau, memang permen kapas.
"Saat api membakar diri sendiri, tunggulah aku jadi kremasi yang bercumbu dengan petrichor di udara, dan membisikan padamu. Aku mencintaimu, meski aku jadi abu"
Jumat, 17 April 2020
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Riuh Pandang
Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...
-
Kau adalah api. Menyala dengan kecil yang rapuh dan perlu banyak kayu juga sedikit minyak. Seiring dengan waktu, kau tidak lagi hanya berad...
-
Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar