Selasa, 28 April 2020

Ilusi

Ada yang pernah bilang padaku di pelataran teras rumah dulu dengan nescafe latte dingin digenggamannya.

"To be happy with everything, you must first be happy with nothing"

Belakangan aku sadar, bukti itu nyata.

I'm happy with you. Even you're just an illusion.

Jumat, 17 April 2020

Dini Hari

Kita terbentuk dari kalut yang percis. Angkasa yang tak ramah dan tanah yang tidak mau diam.
Resah adalah nafas yang kita hirup untuk hidup dan gugup menjadi semacam parkinson yang merusak saraf.
Kita hancur dengan cara kita masing-masing.
Kita tidak bisa bangun dari mimpi yang memabukkan pada objek vitalitas yang berbeda bentuk.
Bagaimana kau bisa bertahan dan aku bisa tetap berdiri tegak meski jatuh lumpuh berkalikali?
Selain keyakinan bahwa kabut bisa tersingkirkan, langit akan punya matahari dan tanah menumbuhkan rasa yang selama ini kita harapkan.

Kita pernah punya harap batin ini lenyap.
serupa tak punya rasa.
menjalani skema yang berjalan dengan perlahan.
setidaknya akan menyelamatkan dari gundah sepanjang resah.

Apa bisa?
Jika paradgima kita menyuntikan energi negatif itu pada dirinya sendiri?

Oh tentu saja,
Tidak pernah bisa.

Permen Kapas

Aku, 02.40 Pagi.

Apa kau pernah membayangkan rasanya jadi permen kapas?
manis, besar, indah, dan warna warni.
tapi mudah lenyap. dan hilang. dan pergi tanpa jejak.
padahal menunggu adalah kegiatan yang sangat menyebalkan. tapi menunggu permen kapas juga adalah kegiatan yang menyenangkan. terutama kala dia sudah sangat besar dan dibentuk dengan banyak bentuk.

Tapi tetap saja.
Dia mudah sekali hilang.
Tanpa jejak.

Walau tetap menyenangkan melihatnya terbentuk. dan rasanya di lidah. Endorfinku bermekaran dan perasaan senang dari gula menguasai otak dengan buas.

Malah kadang tidak bisa berfikir jernih.

Meski kembali lagi, setelah manisnya selesai, wujudnya juga pergi.

Ah, Maaf, kau tak usah membayangkan rasanya jadi permen kapas.

Kau, memang permen kapas.

Kamis, 16 April 2020

Zona Ekslusif




Aku adalah garis pantai. Dan kau adalah pesisir laut.
Kita disatukan oleh gelombang, karang dan perpaduan yang indah kala matahari terbenam.
Bagaimana seringkali kau membuat pasir ku basah atau aku yang meredammu agar tidak terlalu tinggi.

Namun pada akhirnya aku mengakui kala rembulan itu merengkuhmu dalam purnamanya.
Kau kembali mengiba dimalam hari hingga kau tak sadar kau hancurkan pantaiku dengan sempurna.
Aku hanya memilikimu kala fajar terbit dan senja terbenam.

Selebihnya, kita hanya garis pantai dan pesisir laut.

Yang sulit merengkuh utuh.

Rabu, 01 April 2020

Korosif



Seperti lelah yang tak kunjung menemukan ujung, perlahan kehilangan minat pada bunga yang bermekaran sepanjang tahun.

Merasa kalau, taktik yang selama ini ku tanam, sudah di tuai dengan buas dan liar sampai membelit dirinya sendiri. Terjebak menjadi herbivora yang salah, dan kini sepertinya tidak lagi.

Aku berhenti.

Tidak, aku tidak kembali pada hamparan savanna itu. Dia sudah membumi hanguskan segala pelangi yang kukira muncul setelah hujan. Bahkan, hujan pun tidak pernah turun. Oase yang kukira berada ditengah kita pun sesungguhnya hanya fatamorgana. Jadi, aku minum air putih yang banyak dan membuat otakku tetap sadar. Aku tidak bisa kembali lagi pada gurun yang tak memberi nafas itu lagi.

Berada diantara langit yang kadang jernih, seringnya kelabu dan pekat. Tapi aku juga enggan menapakkan diri pada bumi yang basah, becek, banjir, kering, tandus. Berubah-ubah seperti mood perempuan yang berdarah setiap bulan.

Kadang aku bertanya. Apa sudah hilang?

Tapi kadang tarikannya kuat sekali. Sampai aku tak bisa bernafas karena mencekik pergelangan tanganku sampai paru-paru lupa kalau dia tak punya hubungan dengan nadi.

Adiktif yang perlahan mengikis menjadi korosif. Berkarat. Dan lengket dengan besi. Tak tersentuh. Oleh basa sekalipun. Semakin merasuk ke rusuk. Menyerap energy hidup menjadi suri yang membentur. Tak pelak hilangkan semua indra perasa. Lumpuh. Stroke. Hanya bisa mendengar. Bisu dan buta.

Baik, aku hanya lelah.

Mungkin aku butuh sandaran. Bisakah kau pulang?
Aku, menunggu.

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...