Aku sedang duduk di sebuah kursi dengan meja panjang berwarna kayu putih. Di ruangan ini hanya ada 12 orang untuk kapasitas hingga 60 orang. Sepi bukan? Tapi tidak. Disini sangat berisik. Suara yang berada percis dalam telingaku dan bergaung dikepalaku. Dengan kalimat pertanyaan yang selalu sama.
"Kamu dimana?"
Sesekali aku melihat pintu dan menebak mungkin kau bisa tiba-tiba ada. Tapi rasanya terlalu mustahil dengan agendamu yang padat sampai tak sempat mengirimkan aku pesan selamat pagi. Ada banyak hal yang berbeda diantara kita sejak lima tahun pertama. Aku hampir tidak sanggup tapi aku berusaha mengikuti ritme yang kamu bentuk.
Bagaimana ini akan menjadi sebuah akhir yang tidak pernah memiliki awal?
Aku pernah begitu pasi pada semua hal yang kamu usahakan rona nya. Aku tidak pernah tertarik pada ceritamu yang berisik dan karakter yang begitu terbuka. Sampai saat kamu mengungkap bahwa musik kita memiliki alur yang sama, untuk pertamakalinya dalam hidupku yang fana, aku jatuh cinta pada pandangan mata tajam yang bicara segalanya.
Kamu bukan hal yang bisa ku puja selamanya. Tapi tanpa memikirkan apapun, denganmu rasanya cukup. Aku berkali-kali menyadarkan diri untuk tidak jatuh dalam pola yang percis. Meski kamu berhasil memainkan peranmu dengan jujur. Sampai entah pada tahun keberapa, aku menemukan kamu yang mulai tak memiliki nada.
Dingin, pelan.
Aku seperti menemukan tokoh lain yang rasanya bukan kamu. Karakter yang tidak pernah diciptakan menjauh. Kamu tarik aku kedalam tapi membiarkan aku membusuk disana. Aku kesulitan nafas padahal aku dikelilingi kamu yang penuh udara.
Bertahun ku merenung. Apa yang salah?
Apa aku tidak pernah baik untukmu yang sempurna?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar