Aku sedang menertawakan ikan mati barusan.
Dia terdampar tak berdaya diantara ubin setinggi perut orang dewasa. Berjajar bersama kerabat jauh yang tidak ia kenal. Menunggu eksekusi pembersihan isi perut, sisik dengan meninggalkan mata yang sayu dan pucat pasi.
Aku tertawa karena dia tau dia sudah mati. Tapi masih berusaha bernafas padahal tidak ada air disekitarnya. Sekeliling adalah udara yang membuat insangnya sesak karena tidak berguna. Tapi dia masih mengatupkan mulutnya berharap ada yang bisa ia hirup selain bau amis darah ikan lain yang sedang difillet.
Kenapa dia masih berusaha padahal ajalnya sudah tidak bisa diselamatkan dari Algojo bercelemek coklat. Teriakan "harga murah sepuluh ribu dapat tiga" bukan senandung yang bisa nyaman didengarkan kala nyawanya tinggal dikerongkongan. Atau berisiknya bunyi sisik yang jatuh, dan tatapan pencuri dibalik kaki. Dengan kumis yang siaga dan mata yang tak pernah lepas dari gerakan tangan yang berharap tidak sempurna sehingga ada kesempatan satu ikan akan jatuh jadi santapan sarapan siang.
Aku masih tertawa.
Menertawakan kesempatan yang dia harap masih ada. Padahal harusnya dia putus asa. Kehidupan laut dengan riuh ombak, ramai riuh penghuni air yang berebutan mencapai piramida tertinggi, atau jeritan kalah adu panconya kepiting dengan cumi sotong tidak akan bisa dia rasakan lagi. Karena larangan bermain sendirian terlalu jauh yang dilanggar, hingga masuk ke jeruji jerat kail di air pasang adalah konsekuensi yang harus dia terima. Berpisah dengan ibunya yang sudah lama meninggalkan dia. Atau keluarga yang tidak pernah dia kenal yang selalu memakinya karena jarang pulang ke sarang.
Lalu aku merenung.
Atau memang itu pilihannya? menyerahkan diri atas kehidupan yang tidak pernah berpihak pada sirip kecilnya yang rapuh?
Lalu kenapa dia masih berusaha hidup ketika takdir memiilihnya untuk mati? Apa ilham sadar turun padanya agar terbersit bahwa "ya! aku tidak bersyukur atas kehidupan yang telah aku jalani. aku memilih mati dan mereka berikan kesempatan itu. sekarang aku ingin hidup lagi? bedebah laut! seharusnya sejak dulu aku enyah. Aku tidak pernah minta jadi telur!"
Tapi tak ada yang bisa diubah dan kata 'terlambat' sudah layak diucap.
Lantang ku dengar degupnya yang melemah. matanya tidak ada kesempatan untuk tertutup karena algojo bercelemek coklat suka melihatnya terbuka untuk menandakan dia masih segar. Mungkin tidak akan banyak yang berebutan membelinya tapi setidaknya dia ada untuk siapapun yang mau memilihnya.
Aku diam selama 10 menit memperhatikan itu semua. Tidak ada yang membawanya pulang untuk dijadikan masakan. Kasihan. Bahkan setelah dia mati, tidak ada satupun yang mengasihani. Memberinya perayaan pemakaman yang layak dengan cabai merah dan kuah asam garang.
Sempat terfikir olehku, dengan sisa 2 ribu rupiah yang kupunya, apa aku bisa menebus pemakaman untuk ikan itu? Tapi Algojo berwarna coklat sepertinya tidak punya toleransi harga meski hanya seribu rupiah. Aku menyerah dan membiarkan ikan itu memiliki takdirnya.
Kembali dengan meratapi keranjang belanjaku dimana mereka beruntung karena akan menjadi hidangan yang lezat untuk diolah olehku. Mungkin aku akan membuat udang lada hitam dan nasi goreng seafood ala restoran terkenal. Sedikit cabai merah akan membuat tampilannya cantik dan suamiku pasti akan semakin suka kala dia pulang kerja nanti.
Malam turun lebih cepat. Ponselku berdering nyaring dan sapaan "aku didepan" adalah kalimat konfirmasi dimana aku bisa mulai membuka pintu.
"Aku masak nasi goreng seafood dan udangnya matang sepuluh menit lagi. Ada teh jahe hangat yang Ibuku titip untuk kamu minum."
"Waaah nasi goreng seafood. Kebetulan, aku bawa ikan kuah garang asam. Kita makan sama-sama yaa. hari ini tema nya seafood party"
"Wih Ikan garang asam? beli dimana ini?"
"Habis nengok ibu temanku yang sakit. Istrinya masak ini. Katanya ikannya segar-segar di pasar jadi aku diminta cicipin. Kamu suka ikan kan?"
Aku tersenyum.
Akhirnya, kamu mendapatkan pemakaman yang layak.