Mari kita diskusi sedikit tentang bagaimana hidup bisa
dijalani dengan menyenangkan selama kau ada. Seperti ketika kapanpun aku
membutuhkan seseorang untuk mendengarkan, kau memberikan sebuah kesempatan yang
jauh lebih hebat. Segalanya berjalan begitu apik hingga akhirnya segalanya
sudah tersedia di meja. Sepaket telinga yang terhubung pada batin dan
pemikiranmu yang luas, dan makanan yang banyak. Yang begitu bisa menyentuh
pipiku sampai mengembang dan sulit berhenti tersenyum.
Atau ketika aku ingin sesuatu, kau selalu bilang iya. Meski aku
tau itu bukan pilihan yang baik, namun kau memintaku mempertimbangkan justru
dengan membebaskanku memilih apapun yang aku mau. Banyak memberikan jokes receh
yang recehannya justru menghujani aku dengan gema tawa yang tak bisa berhenti
untuk beberapa saat.
Jadi, saat aku duduk di bis ini, aku mulai mempertimbangkan
banyak keraguan yang dulu muncul begitu sering. Jika dulu aku ragu apa kau
pantas masuk dalam hidupku, kini aku ragu apa aku pantas masuk dalam dimensi
baru yang mana itu adalah duniamu.
Seolah Tuhan sedang mempertontonkan padaku ‘Inilah ciptaanKu
yang selama ini kau cari kan? Dan kau sempat ragu akan menemukannya di belahan
dunia yang mana. Aku menghadirkannya untukmu saat ini. Dan dia adalah ciptaanKu
dalam bentuk sebaikbaiknya’.
Seakan Tuhan benar-benar menjawab doaku yang dulu sangat
ingin seseorang yang tinggi, putih, bermata sipit, baik hati dan memiliki waktu
yang banyak untuk dihabiskan dengan hal receh.
Meski kecil kemungkinannya kau membaca ini, aku hanya ingin
bilang terimakasih.
Telah hadir diwaktu yang tepat. Meluruskan aku yang selama
ini keliru terhadap segala rasa yang muncul pada orang yang salah.
Maaf jika aku melibatkan diri terlalu dalam. Nadiku bergerak
kencang setiapkali tanganmu menelusuri jemariku yang kedinginan ditengah malam
saat nonton film bajakan. Atau saat kau mampu memberikan tawa dari canda receh
sarkas dimana jarang sekali orang bisa mengerti apa yang aku lontarkan. Atau saat
degupku tak bisa menemukan rima yang tepat kala peluk itu mampir melingkupi
tubuhku yang kepayahan. Dan mungkin hanya denganmu aku bisa berhenti minum
paracetamol merah itu jika bukan mata sedihmu yang berbicara.
Terimakasih telah hadir di waktu yang tepat.
P, Ilysfm.