Selasa, 09 Juni 2020

Paruparu baru




Selama ini ku kira aku yang sudah payah mendapat polusi dari asap rokok, atau knalpot damri, dan seringnya asap arang dari sate depan rumah, sampai paruparuku payah sebagai paruparu lalu aku tinggal menghitung hari kapan aku mati.

Rasanya terlalu pasrah untuk tetap hidup tanpa kendali yang cukup. Seakan semesta menghajar membabi buta. Semua organku babak belur. Sudut mata kehilangan jalur untuk menangis. Dia tersesat dan tidak bisa menemukan jalan pulang. Gelap dan kelam. Jauh sunyi terdampar tak perhatian yang didapatkan.

Kadang aku berjalan tanpa memperhatikan jalan. Lupa terhadap peta yang sudah jelas di depan mata. 

Aku terlalu lelah untuk sadar. Aku paham tentang waktu yang sebentar lagi habis. Dan aku merasa sudah menyerahkan segalanya meski tidak sesuai ekspetasi.

Hidangan yang mewah, atau berkesan. Semuanya hanya mampir sekedar melipir. Tidak tinggal lama untuk selamanya. Bunga yang bermekaran dan dipetik dengan liar untuk dibuat sebagai karangan yang manis pun lenyap di makan usia senja. Semakin pelik dan aku sekali lagi menyerah.

Sampai tiba-tiba aku tertegun.

Ketika ada sebuah paruparu baru yang memberiku ruang bernafas lega.

Meski secara logika aku paham kalau paruparu tak bisa digantikan. Tapi kali ini, aku ingin mencoba.

Apa aku bisa bernafas lama?

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...