Minggu, 07 Juli 2019

Letter D


Sebuah surat untukmu yang mungkin suatu saat nanti kau akan baca.

***
Dear Wi,

Ini entah tahun keberapa aku bisa mengenal kamu. Lewat sebuah buku yang kita tak pernah tahu isinya apa, tapi kau yang mengambilnya di tempatku dulu. Dengan sweeter Christmas merah yang kau kenakan dan senyum paling manis yang bisa kuingat. Dulu aku hanya tahu kamu sebatas nama, tanggal lahir, dan janjiku pada diriku sendiri untuk memberikan yang terbaik saat bulan lahirmu tiba.

Aku sangat berterimakasih pada kesempatan yang Allah berikan padaku untuk bisa mengenalmu lebih jauh. Termasuk saat kamu datang kembali dengan masker yang mati-matian kau cari demi menutupi wajahmu. Padahal dari entah jarak sekian aku sudah bisa menghirup parfum yang kau pakai. Bagaimana aku bisa sangat gembira saat kau datang dan menanyakanku buku yang kita tau, tak pernah ada. Dan hingga detik ini, saat kau membaca ini. Aku masih sangat senang bahkan sekedar untuk mengingatnya.

Hutan tempat kau membawaku di lima belas maret hari itu juga sangat aku ingat. Orchid belum rampung menjadi tempat wisata. Masih banyak yang balapan liar dan jeep offroad, tapi masih memiliki sunset yang indah ketika motor menuruni bukit untuk pulang. Senja nya di tutupi dedaunan dan angin sepoi masih sering membelai lembut dedaunan yang turun terterpa.

Senyum itu yang selalu membuatku jatuh hati. Ketika video ucapan ulang tahun yang ku buat sangat sederhana itu bisa menyentuh hatimu yang dulu beku padaku. Bagaimana matamu berucap terimakasih dan aku bersyukur pada Allah yang menciptakan senyum seindah itu untukmu.

Bagaimana, apa kau masih ingat saat kita ke toko buku Palasari untuk mencari buku? Aku sangat bingung buku apa yang harus kucari. Aku mencari daftar buku yang harus ku temukan dan saat aku mendapatkannya, tak kusangka aku bahagia. Terlebih saat kau memejamkan mata kala ku berikanmu aroma buku yang lembarannya ku buka perlahan-lahan. Sial, kau selalu tau cara membuat orang begitu memuja.

Aku tahu dulu aku melakukan kebodohan yang sangat bodoh. Bodoh sampai setiap aku mengingatnya aku mengutuk diriku sendiri. Aku merasa menjadi manusia paling tak berguna. Kejadian yang mungkin kau maafkan tapi tak kau lupakan. Dan aku tak pernah memaafkan diriku tentang itu. Aku selalu menyukaimu. Selalu. Dan tak pernah berubah.

Mungkin aku sering jalan dengan banyak orang. Aku dekat dengan banyak laki-laki yang mampir dan kau tahu? Mereka hanya figuran. Dan kau selalu jadi tokoh utama. Aku menyesal pernah dekat dan bukannya menjaga diriku untukmu kelak. Aku hanya bisa menjaga hati agar tak lagi sembarang di rasuki. Entah sugesti atau apa. Tapi aku selalu berusaha menjadi seperti yang ku bayangkan bagaimana menjadi wanita yang pantas kau dampingi.

Aku berusaha menjadi lebih cantik, pintar. Bekerja keras agar aku kaya. Aku ingin menjadi seorang yang terkenal agar kau tak malu membawaku dalam cerita diantara teman-temanmu. Aku berusaha menjadi yang sempurna meski yang kulakukan malah sebaliknya.

Kadang aku kalut. Kalut yang sangat.

Aku bingung tentang apa yang harus ku perbuat. Aku benar-benar ingin membuat diriku bisa bersamamu kelak. Dalam kebersamaan yang tak pernah terwujud. Kau selalu menjadi rumah disaat ku ingin pulang. Mendapatkanmu aku tak ingin yang lain lagi. Kau, dan segalanya menjadi lebih dari cukup. Aku berterimakasih pada dunia karena membuatmu hidup didalamnya. Di kota yang sama, dalam waktu yang percis.

Seringkali aku berdoa dalam diam memohon harimu berjalan baik, kesehatan melingkupimu selalu dan apapun yang kau lakukan berjalan lancar. Meski aku tak terlibat langsung, caraku berkomunikasi padamu hanya lewat doa yang ku panjatkan sepanjang malam. Dalam draft yang tak pernah ku kirim ke ruang obrolanmu atau postingan berisimu yang ku hide agar kau tak melihat betapa bodohnya aku melakukan semua itu.

Aku pernah membayangkan dalam sebuah narasi (YANG SEMOGA TAK PERNAH TERJADI).

Dalam sebuah taman. Aku melihatmu berdiri dengan jas cream yang pas membentuk lekuk tubuh. Rambutmu di tata rapi. Kumis tipis itu tampak serasi membingkai mu yang suci. Kau menatap rangkaian bunga yang cantik. Dan melihat dedaunan yang membentang di sepanjang langit. Lalu kau tersenyum saat aku melihatmu.

Senyum yang selalu sama. Senyum yang membuat siapapun bisa jatuh hati dengan cara jatuh paling sengaja. Kau akan menyambutku dengan lengan di sebelah saku. Baju putihmu agak keluar dan berteriak minta ku rapikan. Aku berdiri disini, disisi yang menghadapmu dalam jarak lima meter. Dengan gaun tunik berwarna senada. Aku menciptakan diriku sebaik mungkin untuk kau ingat di hari besarmu. Dan semua kenangan yang kita cipta terputar kembali di otakku. Memaksa air mata turun tanpa sengaja. Tanpa di perintah. Dia terharu.

Meski.

Pada akhirnya, aku menangis melihatmu bersama nya. Perempuan yang tak pernah ku tahu itu siapa tapi sialnya begitu amat sangat beruntung mengemban tugas mendampingimu sampai mati. Yang akan menghasilkan buah hati sebanyak yang kau mau. Aku akan menyesali hari dimana aku pernah menyia nyiakan waktu untuk berusaha. Aku akan mengutuk hari dimana aku ketimbang berdoa malah lebih memilih berteriak di twitter berharap kau peka. Aku kecewa pada diriku sendiri yang membangun hari bahagia dengan mu hanya lewat lamunan di bis kota setiap pagi dan saat aku merebah dari riuhnya hari ketika aku akan tidur.

Aku memang bahagia jika kau bahagia.

Tapi jika caramu bahagia bersamanya aku rasa itu tak masuk resolusi hidupku.

Aku yang seharusnya berada menjadi pendamping meski untuk berada disampingmu pun ku tak mampu. Aku yang harusnya menciptakan senyum itu setiap saat dan bertugas menjadi seseorang yang mengucap selamat pagi di semua pagimu. Memaksa diri untuk mempelajari resep makanan yang kau suka. Berada dalam frame foto kapanpun kamera ada. Merawatmu ketika kau butuh atau mencari referensi buku yang bisa kita cari untuk bermalam minggu. Memberimu lelaki kecil yang akan memanggilmu Papa atau gadis kecil yang tak mau pipimu di cium bahkan oleh istrinya sendiri.

Tapi aku tidak bisa.

Aku berusaha dan aku tidak akan berusaha lagi ketika harimu tiba.

Hari dimana kita tak lagi menyimpan cerita.

Hari dimana kau membuat ceritamu sendiri untuk bisa kau bagi dengan semua orang kecuali aku.

Aku tidak akan pernah mau tahu denganmu. Aku berhenti dalam ketetapan abadi. Aku akan mengabdi pada diri sendiri. Membuat terapi agar aku lupa caranya sakit hati.

Namun aku masih akan berdoa meski untuk terakhir kalinya.

Untukmu semoga kau selalu bahagia. Selamanya.

Dari aku,
Yang.. kau tahu. Dan kau selalu tahu.

*** 

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...