Senin, 10 September 2018

Mortaz


Aku melihatmu dimana-mana.

Aku melihat cerah itu dari wajah fajar pagi, angin yang membelai lembut dan mentari yang muncul dari balik pepohonan tepi laut. Mereka seakan mengucapkan selamat pagi bersamaan dengan geliatmu yang muncul dari samudra lautan sana. Aku tidak sadari itu.

Aku melihatmu pada sarapanku hari ini. Kerang laut hijau yang di celup kecap asin ini terasa gurih kala candamu menyandungkan namaku. Kau bilang aku tidur pulas semalam sampai lupa menutup mulut. Ingin rasanya kau cium habis-habisan jika tak melihat tetesan liur yang menggerayam basahi pipi. Aku tidak sadari itu.

Aku melihatmu dari tangkai daun yang layu tadi siang. Kelelahan di sengat hingga petang. Matahari membuatmu bekerja lebih sulit dari biasanya. Kau tidak menyerah kala kubilang jangan larut hingga senja. Tapi dasar kamu yang keras kepala, menikmati keringat yang kau buat sendiri jauh lebih menyenangkan karena bergerak daripada diam di pinggir gubuk tua berkeringat panas yang tak berhenti juga karena tak adanya penyejuk udara. Seperti turis manja katamu. Sembari menganyam padi menjadi tikar yang kau racik dengan lagu sendu dari Teza Sumendra. Aku tidak sadari itu.

Aku melihatmu hingga suatu sore. Tidur karena lelah seharian ini kau pergi kesana kemari. Duduk di pahaku menyanyi sendu lagu yang albumnya mungkin sudah keseribu. Kamu menikmati surya yang tenggelam di lautan tengah. Menebar merah hingga langit kehilangan birunya. Kamu banyak diam hari itu. Betisku menebak kau sedang tersenyum kala kau mengucap syukur dan terimakasih. Penyu hadir bertolak arah seakan menandakan kau akan pergi jua. Aku tidak sadari itu.

Hingga..

Aku melihatmu di penghujung malam.

Kala obor mengiringi langkahmu pergi.

Aku melihatmu setiap hari. Dalam waktu yang selalu sama. Hadirmu yang ada meski hanya sekedar sebutan dalam cerita. Dimana orang mulai menilaiku gila karena banyak tahun belakangan aku kehilangan arah dan tujuan. Mereka lupa siapa aku. Dan aku lupa diriku seperti apa seharusnya.

Aku melihatmu. Selalu melihatmu. Dan aku tahu kau melihatku dari jauh sana. Kau ingin aku berubah. Tapi aku membuatmu kecewa.

Kadang aku berusaha berada di tengah hadirmu dengan menyentuh matahari sebagaimana kau mencintai sinarnya dari pagi hingga petang tiba. Tapi aku hanya punya nafas pendek. Dan kau marah. Seenaknya kau lempar aku kembali ke pantai melanjutkan hidup.

Bagaimana bisa? 
Jika hidupku malah sudah terenggut paksa?

Sabtu, 21 Juli 2018

Blue

Hai Blue,

Apa kabarmu?

Baik saja? Selalu sejahtera ku rasa. Tadi aku beli chatime matcha. Dengan Pearl sebagai toppingnya. Aku beli dua. Satu untukmu, satu untukku. Kau suka matcha kan? Dengan buble sebagai toppingnya? Ya aku tadinya sangat bingung karena tidak tahu kau suka apa. Tapi tak apa, aku coba memilih yang ini. Semoga kau suka.

Kau tau, sore ini sedang sangat bagus bagusnya. Matahari terebenam diantara jembatan layang pasoepati dari sini. Aku duduk di tangga parkiran. Ada banyak motor dan mobil yang parkir disini. dengan gehu pedas dan sosis telur yang kunikmati sendiri. Balubur Town Square mungkin bukan tempat yang sangat hebat untuk menghabiskan waktu. Tapi itu berlaku jika kau tidak bisa mendapat sudut yang tepat. Buktinya aku bisa mendapat sore yang indah hari ini.

Ya akhirnya aku bisa pulang tepat waktu.

Setelah pekerjaanku yang terlalu banyak itu selesai juga. Aku benar-benar stress. Aku harus menyelesaikan target yang seharusnya dikerjakan semua team tapi nyatanya hanya aku yang bergerak. Rasanya sulit sekali bekerja sama. Aku sampai sangat pusing. Aku harus mengerjakan yang mana dulu ya blue?

Belum lagi kampusku yang makin kering.

Kau tahu, dosenku memang jarang masuk tapi sekalinya dia masuk, dia langsung memberi materi yang tidak aku pahami. Dan tiba-tiba ujian.

Oh ya blue, aku masih tidak punya teman hehe.

Kau tahu aku sedih sekali blue.

Maksudku, apa orang-orang tidak mau berteman denganku? Apa aku terlalu kurang ajar? Terlalu apa adanya? Apa aku terlalu polos dan pemalas untuk bersikap palsu? Ini menyedihkan blue. Bukankah katamu aku harus jujur? Tapi kenapa ketika aku jujur, orang-orang justru tidak suka.

Blue, aku kadang sangat ingin mati.

Tapi blue, aku belum siap untuk itu. Mati itu bukan solusi kan blue? Lagipula jika aku mati sekarang sepertinya akan merepotkan. Aku terjun dari lantai 4 ke lantai dasar. Lalu tulangku patah dan ibu-ibu akan berteriak. Lalu akan kesulitanlah orang-orang menghubungi keluargaku ya blue. Apalagi jika aku sampai tahu kau yang paling terakhir tau. Ah aku makin sedih blue.

Aku jadi cari penghiburan yang lain. Dengan teman-teman yang lebih perhatian padaku seperti teman lamaku dulu. Oh ya, kau ingat undangan Teh Putri kemarin? Ya dia menikah juga. Bahagia ya? Aku melihat mereka tidak bisa berhenti menangis loh blue. Oh ya, di pernikahan mereka, aku juga pakai baju seperti baju mu. Biru. Dengan kain lilit abu yang kubeli beberapa bulan lalu. Aku tidak tidur dimalam sebelumya memikirkan mereka, memikirkanmu. Kapan kita bisa seperti itu?

Blue, aku tahu semua itu, semua kehidupanku, kini tidak ada hubungannya sama sekali dengan mu. Aku tahu blue. Jelas sekali itu. Kau tidak ingin diganggu. Kau ingin sendirian dengan statusmu. Fokus menjadi jauh lebih baik. Melupakan semuanya, terutama aku. Karena aku tidak baik untukmu. Begitukah blue?

Blue, aku belajar.

Aku lebih baik kali ini. Aku berusaha keras tidak ketinggalan solat. Aku pasang wifi di rumah biar aku bisa youtube an tentang pentingya hijrah. Malah, aku belajar ingin berhijab. Aku sudah mencoba blue. Aku sangat mencoba. Aku. Sangat. Mencoba.

Tapi blue, perubahanku bukan untuk membawa mu kembali. Terlalu hina jika kau adalah alasan agar aku jadi lebih baik dari kemarin. Aku berubah untuk diriku sendiri. Karena “Perempuan yang baik untuk lelaki yang baik”

Tapi blue,
Aku masih sangat mengharapkan kesempatan itu. Aku selalu berusaha agar kita bisa kembali seperti dulu. Aku ingin kita seperti itu. Kau dan aku, bersama dengan sebuah motor gigi pertamamu. Makan suki pinggir jalan, atau nasi goreng dekat rumah, pergi ke undangan pernikahan orang-orang.. saling bertukar kabar, sabar mendengarkan hariku, duduk diteras dengan kopi berdua di tengah malam. Menikmati kue yang dibeli dijalan. Mendengar lagu Ed Sheeran perfect kesukaanmu. Menyanyi dengan kepalaku bersandar di bahumu.

Blue, tidak kah kau rindu itu?

Tapi kembali lagi.
Semua tergantung padamu. Aku tidak ingin membawamu kearah yang buruk lagi. Kebersamaan kita tidak boleh terikat dengan pacaran ala syaitan. Tapi aku masih amat sangat menunggu blue.
Persetan dengan lelaki yang selalu datang dalam kehidupanku. Atau perempuan yang selalu masuk dalam ruang obrolanmu.

Blue,
Aku rindu. 



Dari gadis yang menunggu mu dengan chatime matcha disisinya.


Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...