Jika Ibu suka wanginya kue nastar dari oven, Ayah suka wanginya cat motor yang mengkilap, Sara yang memuja bakso Akung, Adit dengan baju-baju baru departement store, aku jatuh cinta pada aroma buku yang baru dibuka sampul plastiknya dan setiap halaman di buka cepat dengan ujung jari, Bau air hujan yang bercampur dengan tanah, dan kopi.
Salah satu alasan yang aku gunakan saat wawancara di tempat ku bekerja saat ini. Apa yang membuatku ingin bekerja di toko buku sementara tekhnologi ebook sudah populer di pasaran.
"Ebook tak punya wangi khas buku yang baru dibuka halamannya. originalitas rasa yang hanya bisa dinikmati dalam bentuk fisik, bukan digital"
Alasan itu mengijinkan aku bergabung dan mendapat semacam kepuasan batin saat buku-buku yang masuk kedalam toko kami dan ISO yang menuntut untuk memberikan sample ditiap buku yang datang aku kerjakan dengan senang hati. Disebut aneh oleh orang-orang yang kelewat normal seperti mereka, aku sudah terbiasa. tapi aku tidak terbiasa dan siap membiasakan diri pada November 2014 aku menemukan seseorang yang menyukai hal yang sama ini.
Dia bekerja untuk perusahaan yang sama. Menyukai buku dan membacanya, menambah pengetahuan yang kelewat batas dalam pemikirannya yang luas, dan membahas isi buku bersamanya akan membuat kebodohanku makin terpapar. Menandingi ia seperti membandingkan kinerja gadget touchscreen dengan kalkulator tua yang sekarat. sama-sama berfungsi tapi siapa yang punya lebih banyak fitur dengan kemenangan dalam bidang lebih cepat dan akurat?
Hal yang membuat kami berada di garis yang sama, atau setidaknya memiliki persamaan dan membuat aku tidak terlalu rendah diri adalah kesukaan kami terhadap hal yang pertama aku bahas tadi. menyukai aroma buku yang baru di buka kemasannya, hujan dan kopi.
Ini ketahuan saat dia menghubungiku ke pasar buku terbesar di Bandung. Dia punya selera yang bagus untuk seorang pembaca karena koleksi bukunya adalah buku tua yang aku sendiri bahkan tak tahu bahwa buku semacam itu pernah di produksi. Aku hanya menyukai novel roman dan kebetulan memiliki tiga dari seharusnya empat seri twillightnya Stephanie Mayer. Seri yang tidak ku miliki adalah buku pertamanya. Twillight. Dan aku sudah khatam di buku dua, tiga juga empatnya. tapi yang menyedihkan, untuk buku dasar bagaimana seri selanjutnya bisa lahir itupun aku tidak punya.
Jadi kami memutuskan mencarinya.
Meski sebelumnya gerimis manis turun diluar pintu rumah. Dalam sepuluh menit aku menghirup dalam dalam saat air bercampur dengan tanah bumi. meski ketika perjalanan jejak hujan malah hilang dan berubah menyengat saat kami bertemu di tempat yang ditentukan.
Aku berfikir apa dia juga menghirup dalam-dalam hujan ini? Dia menyukai hujan. atau tidak juga. entah, hanya asumsiku pribadi. aku pernah melihatnya membuat quotes yang berisikan tema hujan. katanya
"Hujan, 1% Air, 99% kenangan"
Serius atau bercanda, apa peduliku? ahahaha.
Mengelilingi beberapa kios, saat kukira dia tahu tempatnya. Dia bilang aku harus mengikuti feelingku jika aku memang menyukai dan menginginkan buku itu. untuk awalnya mungkin ia. tapi belakangan, aku malah menjadikan pencarian buku hanya alibi agar aku bisa lebih lama berjalan beriringan dengannya. Aku tidak mengikuti feelingku. beberapa aku lihat kios-kios ini punya twillight di beberapa edisi. mungkin yang pertama ada. tapi tidak aku coba. aku malah mencari ke kios yang mayoritasnya memajang buku agama. seperti kau mencari alat musik di toko besi. tidak akan kau temukan meski kau bisa menjadikan palu dan seng sebagai alat musik gamelan. #Ba dum tss#
Pada akhirnya.. ya aku menemukan bukunya. Aku mendapati bukuku tidak tersegel dan pinggirannya tidak semulus pipi dia ketika tersenyum.
Begitu menyentuhnya, dan membuka tiap lembaran itu untuk mendapat aromanya yang kuduga pasti tidak enak, karena ayolah.. itu buku cetakan pertama tahun 2008 dan kertas kuningnya menunjukan dia akan sangat bau. tapi aku salah.
"Wanginya masih ada"
Dia tersenyum. "Masa?"
"Mau coba?" Aku menyodorkannya ragu. kupikir dia akan membuka lembaran pertama, membenamkan hidungnya di sana lalu mengejekku dan mengatakan "Ih kamu nipu!! Bau banget ini buku kampret"
Tapi dia malah menyodorkan hidungnya dan memejamkan mata saat aku membuka lembaran itu satu persatu dengan ujung kuku jariku.
Ya Tuhan, Aku mendapat alasan lagi kenapa kini aku menyukai aroma buku.
Karena wangi khasnya
Karena dia menyodorkan hidung, memejamkan mata, menikmati saat aroma itu masuk lewati bulubulu hidung, ke kerongkongan, hingga paru-paru dan terhembus lagi keluar, dan menunjukan pesona betapa seksinya ketika ia melakukan itu.. dia. dia dia dia. alasan bagaimana aku bisa jatuh cinta pada dua hal sekaligus. pada dua rasa yang berpadu satu dengan alasan yang sama..
"Iya" Gumamnya singkat dengan senyum termanis yang pernah mampir dalam mataku lalu mengendap dalam otak yang kusebut dengan kenangan memorial yang abadi.
Selain buku, kutemukan hal lain yang juga kami miliki tadi. Dia, Aku, memuja kopi.
Kami mampir di mini market yang kebetulan menyediakan tempat duduk di terasnya. meski ada duapuluh delapan galon yang dikerubungi nyamuk, Sisa ampas rokok di atas meja, tumpahan tetes kopi sebelumnya juga jejak gula di lantai yang kami injak, persetan dengan semua itu aku hanya menikmati obrolan kami dengan dua kaleng nescafe latte dan original dingin, sekotak pocky strawberry yang punya bonus stiker member JKT48 tanpa bisa kuingat siapa namanya, Sebungkus sari roti coklat yang ia makan dan sneakers yang kami miliki masing-masing.
Terimakasih Tuhan.. Aku jatuh cinta..
pada hari itu, hari sebelum itu, hari ketika aku bertemu dengannya, hari ketika manusia menciptakan karya berbentuk buku yang punya wangi khas, hari ketika Yunani menemukan kopi dan perusahaan mengemasnya dalam bentuk kaleng, hari saat penggagas ide membuat bonus stiker member JKT 48 yang ia tempelkan pada kaleng kopiku, Hari saat perusahaan kami merekrut kami, mengabulkan kami menjadi bagian dari mereka, hari dimana waktu itu membuat customer mencari buku paper romance dimana hanya ada di toko buku kami dan dia yang diutus oleh supervisornya untuk mengambil buku itu, hari yang sama saat sahabatku memanggilku menemui dia untuk membantu menghandle sistem prosedur retur cabang, hari saat semua ini dimulai dan bisa terjadi..
Sekali lagi.. terimakasih ;)
Bandung, Lupa tanggal, lupa bulan, ingat kenangan, ingat pelakunya, ingat tempatnya
Boleh jika kuminta di Repeat?
"Saat api membakar diri sendiri, tunggulah aku jadi kremasi yang bercumbu dengan petrichor di udara, dan membisikan padamu. Aku mencintaimu, meski aku jadi abu"
Sabtu, 25 Juli 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Riuh Pandang
Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...
-
Kau adalah api. Menyala dengan kecil yang rapuh dan perlu banyak kayu juga sedikit minyak. Seiring dengan waktu, kau tidak lagi hanya berad...
-
Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar