Aku melihatmu dimana-mana.
Aku melihat cerah itu dari wajah fajar pagi, angin yang
membelai lembut dan mentari yang muncul dari balik pepohonan tepi laut. Mereka seakan
mengucapkan selamat pagi bersamaan dengan geliatmu yang muncul dari samudra
lautan sana. Aku tidak sadari itu.
Aku melihatmu pada sarapanku hari ini. Kerang laut hijau
yang di celup kecap asin ini terasa gurih kala candamu menyandungkan namaku. Kau
bilang aku tidur pulas semalam sampai lupa menutup mulut. Ingin rasanya kau
cium habis-habisan jika tak melihat tetesan liur yang menggerayam basahi pipi. Aku
tidak sadari itu.
Aku melihatmu dari tangkai daun yang layu tadi siang. Kelelahan
di sengat hingga petang. Matahari membuatmu bekerja lebih sulit dari biasanya. Kau
tidak menyerah kala kubilang jangan larut hingga senja. Tapi dasar kamu yang
keras kepala, menikmati keringat yang kau buat sendiri jauh lebih menyenangkan
karena bergerak daripada diam di pinggir gubuk tua berkeringat panas yang tak
berhenti juga karena tak adanya penyejuk udara. Seperti turis manja katamu. Sembari
menganyam padi menjadi tikar yang kau racik dengan lagu sendu dari Teza
Sumendra. Aku tidak sadari itu.
Aku melihatmu hingga suatu sore. Tidur karena lelah seharian
ini kau pergi kesana kemari. Duduk di pahaku menyanyi sendu lagu yang albumnya
mungkin sudah keseribu. Kamu menikmati surya yang tenggelam di lautan tengah. Menebar
merah hingga langit kehilangan birunya. Kamu banyak diam hari itu. Betisku menebak
kau sedang tersenyum kala kau mengucap syukur dan terimakasih. Penyu hadir
bertolak arah seakan menandakan kau akan pergi jua. Aku tidak sadari itu.
Hingga..
Aku melihatmu di penghujung malam.
Kala obor mengiringi langkahmu pergi.
Aku melihatmu setiap hari. Dalam waktu yang selalu sama. Hadirmu
yang ada meski hanya sekedar sebutan dalam cerita. Dimana orang mulai menilaiku
gila karena banyak tahun belakangan aku kehilangan arah dan tujuan. Mereka lupa
siapa aku. Dan aku lupa diriku seperti apa seharusnya.
Aku melihatmu. Selalu melihatmu. Dan aku tahu kau melihatku
dari jauh sana. Kau ingin aku berubah. Tapi aku membuatmu kecewa.
Kadang aku berusaha berada di tengah hadirmu dengan
menyentuh matahari sebagaimana kau mencintai sinarnya dari pagi hingga petang
tiba. Tapi aku hanya punya nafas pendek. Dan kau marah. Seenaknya kau lempar
aku kembali ke pantai melanjutkan hidup.
Bagaimana bisa?
Jika hidupku malah sudah terenggut paksa?