Oke.
Katakanlah yang paling buruk dari perpisahan adalah
rasa rindu. Itu seperti larutan gula yang manis namun perlahan bisa membuat
tenggorokanmu radang. Tak peduli seberapa lama kau berpisah dengan katakanlah,
orang tersayangmu –hewan kesayangan atau ponsel juga boleh- dalam waktu satu
menit saja, kau bisa merasakan separuh jiwamu hilang. Berlubang dan kosong.
Kering juga rapuh.
Lalu pada akhirnya, Tuhan yang Maha Baik membuat
waktu yang hilang itu kembali lagi padamu. Tanpa kurang suatu apa. Rindu itu
seakan terbayar tuntas. Kau berjanji pada diri sendiri takkan membuatnya hilang
lagi. Karena kesempatan kedua -meski rasanya tak lagi sama-, adalah langka yang
harus terjaga. Kau mampu bersumpah mati demi tetap menjaganya dalam genggamanmu
selamanya.
Tapi kenyataanya, keadaan bisa lebih buruk. Jauh
lebih buruk. Dan amat sangat buruk.
Bagaimana jika perpisahan itu adalah kekal?
Dengan rasa rindu yang tidak hanya berupa larutan
gula. Tetapi berupa sakarin yang mampu membuat tenggorokanmu nampak hanya berupa
tulang penghubung kepala dan tubuh.
Apa kau masih mampu untuk berjanji?
Apa kau ingin waktu menyeretmu kembali?
Apa kau mengutuk dirimu yang dulu?
Kau mungkin begitu.
Atau tidak.
Atau malah lebih dari yang bisa kubayangkan betapa hancurnya
kau menghilangkan kesempatan yang kau bangun penuh bersamanya. Dalam mimpi yang
kau ubah satu persatu menjadi nyata.
Kau hanya merasa sesal yang sangat. Dalam ringkukmu
yang serupa janin kau akan menangis dan berteriak. Mencoba menalar semua hingga
neutronmu pecah dalam serabut kasat.
Aku menyesal katamu.
Aku minta maaf gerammu
Kembalilah pintamu
Dan aku hanya mampu melihat satu persatu dirimu
berupa kepingan. Turun dari senti ke inci, Hingga terus menerus membuat
tungkaimu lemah. Dan ambruk ditanah.
Aku.
Adalah tanah itu.