Ada jarak sejauh bumi dan langit diantara kita
Antara basahnya laut dengan bibir pasir pantai yang gersang
Antara panasnya matahari dengan sejuknya bulan
Paling sederhana, bahkan untuk unsur yang sama
Kau minum teh panas sedang aku teh dingin.
Jarimu di senar, jemariku di ballpoint
Suaramu lantang dan aku hanya miliki alunan samar dari goresan ujung tulisan
Kau mencintai Keju dan aku memuja lada
Kita sejauh itu. Se kontras itu.
Apa yang sama antara kita hanya status dan kejelasan yang masih semu
Seakan Dunia tengah memamerkan apa yang disebutnya utara dengan selatan
Tentang apa yang guru TK dan orang tua ajarkan perbedaan Kiri dengan Kanan
Bagaimana menyadari atas dengan bawah
Juga menanggapi hitam dengan putih
Dan aku katakan Tuhan itu Maha Adil
Ditiap perbedaan ada penyatuan
Segelas Teh milikmu yang mengepul panas
Juga gelas Teh milikku yang berpeluh cair
akan sama-sama meninggalkan kesannya
lalu memiliki suhu yang sama
Agar aman saat bibir kita bertemu di bibir gelas
dan memulai percakapan yang meluruhkan
apa yang selama ini disebut dengan
perbedaan
*Terimakasih padamu yang memilih teh panas
di sebuah kursi bernomer empat puluh lima
dengan penganan keju yang kau nikmati sendiri namun sempat kucicipi.
Bandung, September kesembilan.
"Saat api membakar diri sendiri, tunggulah aku jadi kremasi yang bercumbu dengan petrichor di udara, dan membisikan padamu. Aku mencintaimu, meski aku jadi abu"
Langganan:
Komentar (Atom)
Riuh Pandang
Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...
-
Kau adalah api. Menyala dengan kecil yang rapuh dan perlu banyak kayu juga sedikit minyak. Seiring dengan waktu, kau tidak lagi hanya berad...
-
Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...