Sabtu, 20 Juni 2015

Project Memorial I

Pernah ketika lampion dengan cahaya lampu lima watt itu tergantung dan berjajar sepanjang jalan Cibadak hingga Astana Anyar, aku iseng menghitung berapa banyak orang akan menyadari bahwa setiap lampion memiliki motif yang berbeda. Kebanyakan turis ini hanya melihat keindahannya. warna merah yang berpadu dengan kuning menyala. kontras dengan langit yang kian malam kian pekat. Sedikit-banyak membuat kerumunan terasa hangat.
Tak dapat ku prediksi ada berapa banyak jumlah manusia disini. Berapa banyak warga pribumi, berapa banyak yang berjualan kwetiaw sepanjang area, dan seberapa banyak yang aku kenal? Sebanyak apapun, ya.. aku sendirian.
Sekolahku menggunakan akses jalan raya yang kini di blokade festival Imlek tahunan milik Bandung. Berita pagi mengabarkan jika kemacetan akan berlangsung hingga acara selesai yang di prediksi bisa sampai pagi. Ini jam tujuh lewat duapuluh menit. Aku baru selesai mengerjakan makalah akhir dari tugas bahasa Indonesiaku tentang pengaruh blog dalam dunia digital.
Ponselku mati, Ayah takkan ada dirumah dan Ibu mungkin lebih memilih menonton televisi dibandingkan menjemput anaknya yang sudah dewasa dan dianggapnya takkan tersesat di jalanan yang sudah delapan tahun dilewatinya setiap hari.
Ikbal menawariku tumpangan tadi sore. Tapi aku lebih menghargai Lydia yang (semua mata bisa lihat betapa dia ingin sekali duduk dibalik punggung ikbal) lebih butuh tumpangan. jadi aku mengalah. Ryan, Ajeng dan Farah menemaniku sampai perempatan Jalan dimana kami berpisah karena beda arah. tentu Ryan sebenarnya berbaik hati untuk menemaniku pulang berjalan kaki. tapi sekali lagi, Ajeng dan Farah yang lebih butuh pengawalan laki-laki. Aku kelas Tiga SMP dan membawa sebuah map berisi buku yang akan sangat terasa sakit jika ditempelengkan pada muka siapapun yang mencoba menggangguku. aku bisa jaga diri.
Dan disinilah aku. Berbalut seragam olahraga yang punya bau keringat anak-anak, sepatu yang robek dan kaoskaki berlambangkan logo sekolahku. Sebuah ransel yang Demi Tuhan membuat punggungku sakit juga map yang tadi kuceritakan. Berjalan sejauh tiga kilometer menuju rumah dan jujur aku menikmatinya dibandingkan harus mengeluh. aku bersyukur. karena sejak hari inilah.. aku bisa punya cerita.
Cerita ini manis. Manisnya seperti sebuah jeruk sunkiss yang diberikan seorang ibu-ibu cantik luarbiasa padaku karena menolongnya mengantungi buah-buahan untuk dia persembahkan pada dewa di klenteng cibadak. Senyumannya bisa membuat siapapun bahkan perempuan juga sepertiku merasa begitu tenang. Dan anaknya.. jauh lebih hebat.
Anak laki-laki itu. Dua orang. Yang satu tinggi, rambutnya lurus dan berkaos putih berkerah. celana jeans biru dan sepatu nike navy blue. Dan (kukira) adiknya, jauh jauh jauh lebih manis. seusia denganku kurasa. Berjalan menghampiri ibunya, bercanda dan melempar senyum juga jabatan tangan yang kurasakan telapaknya begitu dingin menyentuh kulitku.
"Dennis" katanya sembari senyum yang memperlihatkan lekukan mata berbentuk pelangi senja.
Dan ya.. aku jatuh cinta..

Riuh Pandang

Apa yang kau harapkan dari sebuah penggaris tua? Untuk meluruskan dirinya, dia butuh banyak cara untuk tetap simetris yang konsisten. Dan it...